Jejaring Pengaman Perbankan

Posted: Maret 24, 2010 in Uncategorized

Orang bijak selalu mengatakan, belajar dari pengalaman adalah guru yang baik walaupun pengalaman itu sangat tidak menyenangkan. Salah satu pengalaman yang sangat berharga bagi industri perbankan nasional adalah terjadinya krisis ekonomi di masa lalu.

Banyak penyebab dari krisis perbankan yang dapat kita simak. Bagi industri perbankan yang umumnya mengandalkan hampir sebagian besar bisnisnya dari perkreditan, maka sangat pasti baik dan buruknya kualitas kredit menjadi penentu sehat tidaknya sebuah bank.

Hasil penelitian menyebutkan, dari 137 negara yang di survei, terdapat 32 negara (termasuk Indonesia) yang tingkat kredit bermasalahnya termasuk kategori krisis. Pada umumnya penyebab krisis adalah tingginya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sehingga menimbulkan krisis secara sistemik (Carl Johan at al, Bank Soundness and Macroeconomic Policy, IMF, 1996).

Belajar dari krisis perbankan di masa lalu, hal terpenting dan harus dilakukan adalah mencegah krisis serupa tidak terulang kembali. Salah satu langkah untuk menghindarinya adalah menjaga dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi perbankan nasional. Diperlukan berbagai langkah reformasi.

Atas dasar pemikiran seperti itu, usaha-usaha strategis yang diperlukan adalah menciptakan suatu jejaring pengaman perbankan nasional (banking safety net) sebagai suatu sistem yang dapat mencegah lebih dini terjadinya krisis.

Ada beberapa indikasi yang harus diperhatikan sebagai alasan diperlukannya suatu sistem jejaring pengaman perbankan nasional dan antara lain:

  1. Batas antara instrumen pasar modal, uang, dan derivatif saat ini menjadi kabur seiring dengan terintegrasinya pasar keuangan. Adanya rekayasa finansial (financial engineering) saat ini sangat sering dijumpai di berbagai perusahaan untuk memperoleh manfaat dari kreditor (baik bank maupun investor), serta pada pemegang saham.
  2. Terjadinya risiko kredit yang tidak bisa dipisahkan dari risiko pasar dan pengelolaan aset-kewajiban (asset-liability) yang baik. Krisis ekonomi tahun 1997 menunjukkan bahwa betapa risiko pasar ditransformasikan menjadi peningkatan risiko kredit yang meluas (Misalnya, Donald V Deventer & Kenji Imai, Credit Risk Models and the Basel Accords, John Wiley & Sons, 2003).
  3. Adanya sarana teknologi aplikasi di bidang keuangan yang menghasilkan berbagai kemudahan melakukan transaksi tanpa batas (borderless) sehingga menimbulkan peluang risiko operasional yang lebih tinggi, terutama yang disebabkan unsur manusianya.

Sebagai lembaga, kepercayaan merupakan sesuatu yang selalu melekat pada perbankan. Pengertian kepercayaan pada dasarnya meliputi pada lembaganya maupun pengelolanya. Untuk menumbuhkembangkan kepercayaan tersebut, beberapa hal dapat dipertimbangkan untuk mentindaklanjuti Bank Indonesia sebagai regulator, khususnya dalam hal berikut:

  1. Meningkatkan pelaksanaan tata kelola yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko (MR) di kalangan perbankan nasional sebagai komitmen yang wajib dilaksanakan. Pelaksanaan GCG dan MR tidak sebatas adanya charter mengenai GCG dan MR berikut petunjuk pelaksanaannya. Jauh lebih penting adalah memantau GCG dan MR. Ini berarti harus ada kuantifikasi prinsip-prinsip GCG dan MR agar pihak yang diperiksa maupun pemeriksa mempunyai persepsi dan kesamaan bahasa.

Perlu dipertimbangkan lagi bagaimana implementasi GCG di Swiss. Pihak terkait (mitra kerja-rekanan-pemeriksa-akuntan-notaris) dengan bank diwajibkan juga memiliki aturan dan pedoman GCG. Tentu tidak ada salahnya pada saatnya nanti semua pihak yang berbisnis dengan perbankan mempunyai juga charter GCG. Dengan demikian, pihak perbankan dan mitranya akan sejalan, sama-sama menjalankan dan mempraktikkan GCG.

  1. Meningkatkan pemberdayaan budaya kerja. Seperti banyak diungkap dalam berbagai jargon bahwa sumber daya manusia merupakan aset utama sebuah perusahaan. Konsekuensinya, tidak adalah pilihan lain kecuali memberdayakan terus-menerus sumber daya manusia. Meskipun bisnis perbankan mempunyai karakteristik yang unik, secara universal tetap relevan mengikuti kaidah-kaidah perusahaan pada umumnya. Misalnya, adanya budaya kerja yang terus dipelihara.

Melalui budaya kerja akan tertata secara sistematis bagaimana seharusnya pekerja bersikap dan berperilaku. Dengan demikian akan tercipta juga suatu code of conduct yang memuat apa yang boleh dilakukan (the do) dan apa yang tidak boleh dilakukan (the don’t). Dengan begitu adanya kalangan perbankan nasional mampu menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang profesional, berkualitas, dan berakhlak tinggi. Itu semua merupakan modal utama untuk menjalankan roda bisnis perbankan.

Dengan kondisi seperti itu, pada gilirannya akan terjamin adanya the right man, right place, and right time melalui proses kaderisasi bankir. Tidak berlebihan sekiranya Bank Indonesia (BI) juga menganjurkan semua bank untuk mempunyai dan memberdayakan budaya kerjanya.

  1. Perlunya sertifikasi bankir. Selain dapat menjamin kualitas dan profesionalitas para bankir, juga menjamin terciptanya tour of duty yang lebih jelas dan adil. Dengan adanya sertifikasi-sebagai pengakuan profesi, dapat diharapkan kualitas profesionalisme akan lebih terukur. Di lain pihak hal tersebut juga memberikan semacam pengakuan standar dari berbagai pihak sehingga mempermudah akses untuk memperoleh kesempatan dalam berkarier. Standar yang baku dan jelas memudahkan BI melaksanakan penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper).
  1. Memperluas cakupan penilaian kemampuan dan kepatutan di kalangan pekerja bank. Selama ini pelaksanaannya masih terbatas jabatan tertentu, direksi dan komisaris. Di beberapa negara pemberlakuan penilaian kemampuan dan kepatutan tidak difokuskan pada jabatan, tetapi pada fungsi.

Fungsi tersebut dikaitkan dengan tingkat kepekaan risiko yang mungkin terjadi, misalnya untuk kalangan dealer, treasurer, analis kredit, dan jabatan-jabatan lainnya yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap risiko.

Dalam praktiknya, pelaksanaan fit and proper untuk strata jabatan tertentu di bawah jajaran direksi dapat saja dilakukan secara internal oleh bank yang bersangkutan dengan mengacu kepada ketentuan fit and proper dari BI. Sekiranya hal-hal itu dapat diformulasikan dalam bentuk ketentuan yang mengikat secara hukum, secara sistem ada jaminan bahwa bank dikelola oleh orang-orang yang tepat, secara profesi maupun moral. Meski belum menjamin sepenuhnya tidak akan menimbulkan penyelewengan, setidaknya sudah ada semacam pengamannya.

Dengan melaksanakan upaya-upaya tersebut, dapat diharapkan terciptanya lembaga yang dapat dipercaya, berikut pengelolanya. Artinya, ada keyakinan bahwa bisnis perbankan dikelola dengan baik sehingga dapat tumbuh secara sehat, kuat, dan efisien.

Dengan memperhatikan semakin cepatnya dinamika perubahan bisnis, di sektor keuangan maupun sektor lainnya, jelas diperlukan berbagai penyesuaian peraturan perundang-undangan. Penyesuaian tersebut tentu harus terkait dengan upaya menciptakan jejaring pengaman perbankan.

Salah satu agenda yang strategis untuk menunjang jejaring pengaman perbankan nasional adalah melakukan amandemen Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Itu diperlukan mengingat beberapa isu penting, seperti tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, pembatasan kepemilikan saham, pengaturan jumlah direksi dan komisaris, serta perlindungan konsumen belum tercakup dalam UU yang telah ada.

Bila dilihat dari kepentingannya, tentu jelas hal-hal tersebut memerlukan kekuatan hukum yang lebih tinggi, bukan hanya sekadar berupa peraturan atau charter yang dikeluarkan BI maupun masing-masing bank.

Payung hukum yang lebih tinggi dan jelas dapat lebih mengikat para pihak untuk melaksanakannya. Secara tidak langsung telah ada sistem pengamanan yang dapat mengeliminasi terjadinya tindak kejahatan oleh kalangan internal, maupun eksternal bank.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s