Perbankan Syariah Menyongsong 2010

Posted: Maret 17, 2010 in Uncategorized

Di bulan yang lalu, tepatnya 21 Febuari 2007, telah diselengarakan seminar bulanan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Gedung BTN dengan tema ‘Pembenahan Manajemen Perbankan Syariah dalam menghadapi Industri Perbankan 2010′. Tema tersebut mengindikasikan bahwa, pertama, selama ini terdapat permasalahan manajemen perbankan syariah yang harus dibenahi.

perkembangan perbankan syariah harus sejalan dengan visi dan misi Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan cetak biru perbankan syariah yang telah dikeluarkan Bank Indonesia. Namun demikian, upaya pengembangan perbankan syariah tersebut, seperti penetapan target pangsa pasar sebesar 5,25 persen pada 2008, harus tetap memperhatikan maqasid as syariah dalam proses pencapaiannya.

Dari hasil kajian dan pengamatan terhadap kegiatan bank-bank syariah, permasalahan manajemen perbankan syariah dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, adanya perlambatan pertumbuhan aset, di mana pada tahun 2003 dan 2004, aset perbankan syariah mengalami kenaikan masing-masing 94 persen dan 95 persen. Sedangkan pada 2005 dan 2006, kenaikan tersebut lebih kecil yaitu masing-masing 36 persen dan 28 persen. Padahal industri perbankan syariah masih berada pada masa awal pertumbuhan.

Komposisi pembiayaan berbasis bagi hasil masih relatif kecil yaitu sekitar 30 persen sementara hampir seluruh literatur tentang ekonomi dan keuangan Islam menyebutkan bahwa karakteristik lembaga keuangan Islam adalah pada skim bagi hasil tersebut. Ketiga, pembiayaan bermasalah memiliki kecenderungan yang terus meningkat. Pada tahun 2006 pembiayaan telah mencapai 4,75 persen atau sekitar dua kali lipat dari tahun 2003 yang hanya sebesar 2,34 persen.

Porsi pembiayaan untuk tujuan konsumsi mengalami peningkatan dari 20,44 persen pada Maret 2006 menjadi 27,71 persen pada akhir 2006. Padahal orientasi kegiatan pembiayaan bank syariah seharusnya untuk tujuan investasi atau pengembangan sektor riil. Kelima, permasalahan nonfinansial seperti penyimpangan operasional, keterbatasan sumber daya insani, dan sebagainya, masih perlu mendapat perhatian semua pihak terkait.

Perlambatan pertumbuhan aset bank syariah antara lain disebabkan oleh keterbatasan kemampuan permodalan setelah mengalami pertumbuhan yang tinggi pada 2003 dan 2004. Keterbatasan sumber daya insani (SDI) yang memadai juga ikut menentukan terjadinya penurunan pertumbuhan aset. Namun di tengah kondisi seperti itu ada bank syariah yang melakukan ekspansi pembiayaan secara fantastis.

Pembiayaan yang berbasis bagi hasil masih relatif kecil dan belum menggambarkan karakteristik serta kekuatan lembaga keuangan syariah yang sebenarnya. Pelakanaan pembiayaan tersebut juga belum menggambarkan esensi dari skim bagi hasil yaitu keharusan adanya partisipasi aktif dari kedua pihak dalam memperoleh hasil yang dapat menciptakan kesejahteraan bagi umat sebagai manifestasi dari maqasid as syariah.

Pembiayaan bermasalah yang cenderung meningkat menggambarkan masih lemahnya manajemen risiko bank syariah dalam mengelola pembiayaan. Kelemahan tersebut bisa terjadi karena kapasitas sumber daya insani yang kurang memadai, kebijakan pembiayaan yang kurang tepat, atau sistem administasi dan instrumen pengawasan yang lemah.

Porsi pembiayaan untuk konsumsi yang cenderung membesar menunjukkan bahwa bank syariah lebih mementingkan kepraktisan dan pencapaian profitabilitas semata. Pembiayaan seperti ini bila tidak segera dikoreksi oleh manajemen bank syariah sendiri atau Bank Indonesia, akan sangat membahayakan perkembangan perbankan syariah. Pembiayaan konsumtif akan menjauhkan keberadaan dan peran perbankan syariah dari maqasid as syariah dan mendorong masyarakat untuk konsumtif.

Manajemen bank syariah seakan lupa atau melupakan diri sementara bahwa pembiayaan seharusnya diarahkan pada kegiatan usaha produktif. Hendaknya kita semua tidak mengulangi kesalahan negara lain dalam mengembangkan industri perbankan syariah yang hanya mengandalkan produk pembiayaan murabahah dan menjauhi pembiayaan dengan skim bagi hasil.

Yang harus dilakukan Visi yang tertuang dalam cetak biru pengembangan perbankan syariah di Indonesia sampai 2011, adalah terwujudnya sistem perbankan syariah yang kompetitif, efisien, dan memenuhi prinsip kehati-hatian serta mampu mendukung sektor riil melalui kegiatan pembiayaan berbasis bagi hasil dalam rangka mencapai kemashlahatan masyarakat. Kondisi perbankan syariah saat ini masih jauh dari upaya pencapaian visi tersebut.

Pembenahan yang harus dilakukan tidak hanya terhadap manajemen bank-bank syariah, tetapi juga terhadap kebijakan dan regulasi Bank Indonesia serta peran pihak terkait lain. Hal-hal yang harus diupayakan bersama adalah pertama, segenap pihak terutama manajemen atau praktisi perbankan syariah memahami dengan baik dan benar maqasid as syariah sebagai landasan berpijak operasionalisasi dan pengembangan bank syariah ke depan.

Manajemen bank syariah harus menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dilakukannya semata-mata dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, dan pengelolaan bank syariah memperhatikan komplementaritas dan spirit kerja sama sebagai prinsip dasar. Ketiga, Bank Indonesia harus menyiapkan atau menyempurnakan kebijakan dan regulasinya termasuk pemberian insentif dan disinsentif sehingga memungkinkan bank-bank syariah memenuhi maqasid as syariah.

Pemerintah harus lebih proaktif mendorong pengembangan perbankan syariah. dalam segenap institusi pendukung seperti lembaga pendidikan yang berperan menyediakan sumber daya insani, asosiasi ekonomi dan sosial kemasyarakatan nirlaba, harus bersama-sama dengan fungsi dan peran yang jelas ikut mendorong pengembangan perbankan syariah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s