Paris Van Java The Best Of Moment….

minggu tanggal 2 juni 2011 menjadi kenangan yang tak terlupakan dan menjadikan sebuah kisah yang berarti buat kita…kisah dimana butuh kesabaran, kedewasaan, dan pengendalian diri.

Hari yang penuh perubahan rencana dan tak di duga, semuanya berawal dari hujan..Pagi itu Rivay menghubungi kekasihnya yaitu Viotha untuk menanyakan jadi apa tidaknya untuk pergi jalan-jalan ke kota Bogor.

Pukul 05:30

Rivay                     :  Hallo..ay masih bobo y,,jadi ga kita pergi..di luar hujan..

Viotha                   :  Hmmm ya ay, jadiLah..sama d tmptku jg hujan..tunggu hujan reda aja yaa..

Rivay                     :  okay,, met bobo lagi yaa, ntaar aq tlpn lagi..

Viotha                   :  ya ay, aq tunggu y..daahh

Rivay                     : dadah…

Rivay pun bergegas mandi dan siap-siap sambil menunggu hujan reda..Pukul 09:00 hujan reda, rivaypun t’lah selesai mandi dan dia langsung menghubungi Viotha ..

Rivay                     : Assalamu’alaikum..

Viotha                   : Wa’alakumsalam..

Rivay                     : ay, bagaimana klo kita pergi ke Bandung sekarang jangan ke Bogor..?

Viotha                   : hmmm, emang kenapa ay..?

Rivay                     : aq, takut kmu kecapaian..ke bogor kan jauh..klo ke bandung kita bisa naik Kereta atau Bus..

Viotha                   : aq mah bgmna kmu ja ay…hayu_hayu aja..

Rivay                     : okay ay, aq jmpt kmu skrng yaa.

Viotha                   : okay, ti2dj yaa ay..

Tak lama kemudian rivay pergi kerumah viotha .. 30 menit t’lah berlalu rivaypun sampai rumah viotha dan bertemu dengan ibunya viotha..

Rivay                     : assalamu’alaikum..

Ibu Vitha              : wa’alaikumsalam..masuk vay..

Rivay                     : iya tante,,

Setiba disana rivay tiba-tiba terpikirkan akan sesuatu..dia membuka tasnya dasn mengambil kartu nama seseorang dan menghubunginya..ternyata yang di hubunginya adalah seorang pengusaha Garmen yaitu (Pak Tejo) dan Rivay mengatur pertemuan dengan Pak Tejo. Tak lama Rivay memberi tahukan kepada Viotha bahwa d bandung dia akan bertemu dengan seoramg pengusaha garmen di Bandung.

Pukul  11:30 Wib..Rivay dan Viotha pergi menuju Statiun Kranji..dan mereka menitipkan kendaraannya disana..

Sampai disana rivay terkejut,, ternyata di stasiun kranji tidak ada tiket untuk jurusan Bekasi – Bandung..mereka terpakasa membeli tiket menuju stasiun Kota yang berada di Kota Tua Jakarta.

Pada Pukul 13:00 Rivay dan Viotha sampai distasiun Kota..ternyata disanapun tidak ada tiket jurusan Jakarta – Bandung, rivay bertanya pada salah seorang petugas d stasiun..

Rivay                     : maaf Pak, boleh tanya ? Klo tiket untuk jurusan Jakarta-bandung di Loket bereapa ya pak..?

Petugas                                : Maaf mas, disini tidak ada, mas harus transit dulu ke stasiun Gambir..

Rivay                     : baik Pak, terima kasih

Petugas                                : sama-sama

disini rivay sedikit kesal dengan Viotha..dan viotha mulai ikut kesal.

Rivay                     : gimana sih..tau ginikan kita bisa langsung ke Stasiun Gambir aja..

Viotha                   : yaa maaf, aku jg ga tau..

Rivay                     : yaudah aku jg minta maaf, sdkit emosi tadi..

Viotha                   : ya..

Rivay mulai menuju ke loket untuk membeli tiket jurusan ke stasiun gambir..di kereta mereka bertemu dengan Asisten Lab Kampusnya yaitu Ka Fraz dan kekasihnya…mereka pun menegurnya

Rivay                     : hey,, Ka Fras..pa kabar ka..?

Fras                        : baik, pa kbar jga…?

Rivay                     : mau kemana ka..

Fras                        : mau ke bogor..kalian..?

Rivay                     : Kami muau ke Bandung, nanti transit di stasiun Gambir..

Fras                        : oh, pulang kampung nii..
Rivay                     : hehehe,, ga ko..kami mau maen aja..

Kereta puntiba d stasiun Gambir…Rivay dan Viotha pun pamit sama mereka..

Rivay & Viotha   : Ka mai..kita turun duluan..

Fras & kekasihnya            : ok, hati-hati ya..salam buat keluarga..

Rivay dan Viotha bergegas menuju loket pembelian tiket..ternyata Tiket menuju Bandung Habis..mereka pun terpaksa naik Travel..

Rivay                     : yaahh ay, habis tiketnya..

Viotha                   : hmm bagaimana dong..

Tak lama ada yang menawarkan mereka untuk naikn Travel..merekapun ambil tawaran itu..dasn langsung menuju ke mobil..

Pukul 14 :00 mereka berangkat menuju kota Bandung dari Jakarta..Rivay dan Viotha sudah merasa lelah..didalam mobil mereka pun terlelap..Pukul 15:00 mereka sampai di kota Purwakarta..Rivay terbangun..duia mencoba membangunkan Viotha untuk menikmati pemandangan..

Pukul 16:15 mereka tiba di kota bandung..setelah 2 jam perjalanan rivay dan viotha cukup lelah..merekapun mencari pedagang makanan..

Pukul 17:00 mereka menuju tempat tujuan..rivay menghubungi pak Tejo kembali..

Kemudian rivay dan viotah melanjutkanperjalanan menuju rumah pak Tejo..mereka harus 2 kali naik angkutan untuk sampai d sana.

Rivay mulai berbahasa daerah agar tidak salah informasi..tapi bahasa daerah rivay kurang begitu baik sehingga membuat warga sana tersenyum dan tertawa melihatnya.

Untuk sampai disana mereka harus naik angkutan menuju Gede bage dan turun di alun-alun kota kemudian naik kembali menuju angkutan menuju Binong..

Pukul 19:00 rivay dan viotha sampai di rumah pak Tejo, disana rivay mencoba menanyakan harga kaos per lusin dsan melihat-lihat proses produksi disana.

Rivay                     :  selamat malam..

Pak Tejo               : Malam..

Rivay                    : hallo pak Tejo, salam kenal..

Pak Kenal            : ya, oia keperluan mas Rivay, ke sini apa ya..?

Rivay                     : saya kemari, mau menawarkan kerja sama pak, klo memang sesuai barang dan harganya..?

Pak Tejo               : wah, dengan senang hati kami akan bantu..

Ditengah pembicaraan Rivay mulai memperhatikan gerak-gerik Pak Noo, dan sedikit curiga dengan cara matanya menatap Viotha..beberapa menit kemudian mereka menuju ketempat produksinya..disana mereka melihat design dan contoh-contoh kaos yang sudsah jadi..

Rasa kecurigaan itun terbukti setelah Pak Tejo meminta nomor Hp Viotha, Rivay pun makin kesal dengan sikap Pak Tejo..rivay mulai mengajak viotha kembali keruangan Tamu pak Tejo dan Rivaypun mulai pamit kepada Rivay..Pak Tejo beserta anak buahnya menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Travel..disana Pak Tejo bermaksud mengajak Viotha untuk naik kendaraan bersamanya..namun Rivay melarang Viotha..ditengah perjalanan rivay sangat khawatir kepada viotha yang tertinggal jauh dibelakangnya bersama anak buah pak Tejo..dan Rivay menyuruh Pak Tejo untuk berhenti untuk menunggu Viotha..tak lama kemudian viotha muncul dan rivay melanjutkan perjalanan..setelah sampai di Travel perasaan Rivay pun sedikit tenang..

Pukul 21:00 Rivay dan Viotha berangkat menuju Jakarta..

Didalam Travel mulai menerangkan kenapa dia larang Viotha untuk ikut bersama Pak Tejo..

Rivay                     : ay, maaf tadi aku marah saat melarang kamu mau naik bersama Pak Tejo,karena aku khawatir terjadi apa2 sama kamu.

Viotha                   : ya ay, aku ngerti ko..tadi aku jga takut waktu aku tertinggal jauh dari kamu..takutnya ini rencana mereka ..supaya kita jauh..

Rivay                     : ya ay..makanya aku ga mau sampai terjadi apa2 sama kamu.. karena aku sayang kamu..

Viotha                   : aku jg ay sayang sma kamu..

Viotha mulai mengantuk dan bersandar ke pundak rivay..rivay mulai mengelus-ngelus kepala viotha dan mencium keningnya..tanpa disadari rivay pun tertidur..

Setelah 2 jam merekapun sampai dijakarta..setiba disana rivay mulai membangunkan viotha dan turun dari mobil..

Rivaypun bergegas mencari Taxi..tak lama merekapun mendapatkan taxi..didalam taxi viotha tidur kembali..

Viotha                   : ay, aku tidur dipaha kamu ya..abadan ku pegal…
Rivay                     : ya ay, sini…rivaypun kembali mengelus-elus kepalanya..

20 menit tlah berlalu dasn mereka tiba di stasiun kranji dan mengambil kendaraan mereka..

Rivay mulai membangunkan viotha dan membayar taxi..

Rivay                     : ay, kita udah sampai..

Viotha                   : masih ngantuk..

Rivay                     : ya, nanti kmu lanjutin lgi di rumah yaa..

Viotha                   :…hmmm…-.-

Rivay                     : pak..berapa..?

Supir Taxi             : 42ribu mas..

Rivay                     : ok Pak, terima kasih..

Supir Taxi             : ya , sama-sama

Rivay dan Viotha menuju tmpt penitipan motor ..

Rivay                     : malam pak, saya mau mengambil Motor saya pak..

Penjaga Parkir   : ya mas, mana Karcisnya..?

Rivay                     : ini Pak, berapa..:

Penjaga Parkir   : 3000 ribu mas..

Rivay                     : ok pak, terima kasih..

Penjaga Parkir   : ya sama-sama..

Rivay dan Viotha melanjutkan perjalanan pulang…ternyata viotha masih ngantuk dan dia tidur di pundak rivay..dan ketika hampir samapai mereka berhenti untuk membeli buah durian..

Rivay                     : ay, papah suka durian ga..?

Viotha                   : hmmm, papah suka,,mang knpa ay..?

Rivay                     : Kita beli yuu..
Viotha                   : yaudah..

Setelah selesai membeli buah durian mereka jalan kembali dan setelah 10 menit mereka sampai rumah Viotha..

Rivay                     : Asalamu’alaikum..

Papah Viotha     : walaikumsalam..

Viotha                   : ay ngantuk..

Rivay                     : yaudah kmu bobo ya sayang..

Viotha                   : Kamu..

Rivay                     : aku paulang ay, dah malam..

Viotha                   : hmm..makan dlu yaa..

Rivay                     : ntar di rumah aku aja ya..

Viotha                   : yaudah..ati2 ya pulangnya..

Rivay                     : pah, Ivay pulang dlu ya..

Papah Viotha     : ya, ati2 ya..

Rivay                     : assalamu’alaikum..

Papah Viotha     : Wa’alaikumsalam

Rivay                     : ay, aku pulang yaa…asalamu’alaikum.daahh

Viotha                   : yaa, wa’alaikumsalam dadah..kabarin aku yaaa..

Rivay                     : yupz…^.^

Analisa Beak Even

Posted: Juni 8, 2011 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Manajemen perusahaan harus memiliki kemampuan didalam melihat kemungkinan dan kesempatan di masa yang akan datang, didalam merencanakan masa depan perusahaannya sedapat mungkin semua kemungkinan dan kesempatan di masa yang akan datang telah disadari dan direncanakan bagaimana menghadapinya sejak sekarang.  Perencanaan bisa diartikan sebagai spesifikasi dari tujuan-tujuan perusahaan yang ingin dicapai serta cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.

Ukuran yang sering kali dipakai untuk menilai sukses tidaknya manajemen adalah melalui laba yang dihasilkan perusahaan.  Sedangkan laba terutama dipengaruhi oleh tiga faktor:  harga jual produk, biaya dan volume penjualan.  Dari ketiga faktor tersebut volume penjualan langsung berpengaruh terhadap volume produksi dan volume produksi berpengaruh terhadap biaya.  Oleh karena itu di dalam perencanaan laba analisis hubungan biaya, volume dan laba memegang peranan yang sangat penting dalam pemilihan alternatif tindakan dan perumusan kebijaksanaan untuk masa yang akan datang.

Hubungan antara biaya, volume penjualan dan laba dapat dianalis melalui analisa Break Even Point (BEP) atau analisis pulang pokok.  Atau dengan kata lain Analisis Break Even Point merupakan alat bantu untuk mengetahui atau merencanakan pada volume produksi atau volume penjualan berapa perusahaan dalam posisi impas yaitu, suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian.  Dengan diketahuinya titik impas tersebut dapat direncanakan tingkat volume produksi atau volume penjualan yang akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.  Agar tidak menderita kerugian perusahaan harus mengusahakan volume penjualan minimum berada pada titik impas.  Dalam hal ini CV. NOVA FURNITURE berusaha menentukan harga jual yang kompetitif, mengingat banyaknya industri furniture sejenis dengan similiritas produk yang ditawarkan khususnya di wilayah Surakarta & Jogyakarta.

Untuk mencapai jumlah keuntungan tertentu manajemen perusahaan dapat melakukannya melalui dua cara, yaitu :  dengan menentukan menentukan besarnya harga jual per unit dan yang kedua dengan menentukan besarnya jumlah unit produk yang dijual.  Penentuan besarnya harga jual per unit berpengaruh pada besarnya keuntungan per unit produk yang dijual sedangkan dengan jumlah unit yang dijual tertentu akan berpengaruh terhadap total keuntungan yang diperoleh perusahaan.  Memfokuskan pada masalah bagaimana merencanakan penjualan yang menguntungkan perusahaan, penulis mengambil judul “ ANALISIS PERENCANAAN PENJUALAN DALAM RANGKA MENCAPAI LABA PADA CV. NOVA FURNITURE PALUR – KARANG ANYAR.

B.  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

    1. Bagaimana perencanaan penjualan dan biaya yang digunakan CV. Nova Furniture untuk melakukan produksi periode 2003.
    2. Berapa tingkat penjualan tahun 2003 yang harus dicapai agar mencapai tingkat Break Even Point dan berapa tingkat penurunan yang dapat diterima sehingga perusahaan tidak rugi/laba.
    3. Berapa Volume penjualan yang harus dicapai agar diperoleh laba yang direncanakan.
  1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan yang hendak dicapai dalam  penelitian ini adalah :

    1. Untuk mengetahui volume penjualan pada periode 2003 berikut biaya yang diperlukan dalam proses produksi.
    2. Untuk mengetahui tingkat penjualan dalam kondisi Break Even serta penurunan volume penjualan yang masih dapat diterima agar perusahaan masih dalam keadaan Break Even.
    3. Untuk mengetahui volume penjualan yang sesuai dengan laba yang telah direncanakan.
  1. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

    1. Bagi perusahaan dalam hal ini CV. Nova Furniture sebagai sumbangan pemikiran yang dapat dipertimbangkan dalam perencanaan penjualan.
    2. Bagi kalangan akademisi, diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan, pengetahuan serta memberi informasi atau masukan bagi penelitian sejenis.
    3. Sebagai bahan masukan untuk mengadakan penelitian sejenis.

 

Forecast Penjualan

  1. Kerangka Pemikiran

Volume Penjualan yang akan datang

(range peramalan)

Rencana Produksi

(Stabilitas Produksi)

(vol penj + pers. Akhir  – pers awal)

BIAYA

BEP

LABA
Biaya Tetap

Biaya Variabel

Rencana Penjualan

GAMBAR 1.1 KERANGKA PEMIKIRAN

 

Berdasarkan data historis penjualan masa lalu, data-data tersebut diolah dengan trend kuadratik  untuk memperoleh estimasi volume penjualan yang akan datang. Hasil peramalan/trend dibandingkan dengan volume penjualan riil selama periode yang dianalisa agar didapatkan range volume penjualan/besarnya penyimpangan penjualan yang diramalkan dengan penjualan riil, baik batas penyimpangan tertinggi maupun terendah. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakakuratan peramalan penjualan mengingat volume penjualan bisa berubah dengan sangat fluktuatif.

Berdasarkan ramalan volume penjualan, ditentukan besarnya rencana produksi dan metode yang digunakan adalah stabilitas produksi yaitu jumlah barang yang diproduksi pada kisaran yang relatif stabil untuk tiap periode, besarnya jumlah barang yang diproduksi adalah rencana penjualan + pers. Akhir yang diiginkan – persediaan awal dari periode lalu.  Berdasarkan rencana produksi ditentukan perencanaan biaya, yaitu biaya variabel diperoleh dari pengalikan tariff biaya variabel/unit dengan volume produksi, biaya tetap diperoleh dari ramalan biaya tetap berdasarkan data historis biaya dan biaya semi variabel dipisahkan ke dalam biaya tetap dan variabel.  Setelah itu data rencana penjualan dan biaya diguanakan dalam analisa BEP untuk dapat diketahui  volume penjualan pada titik impas, margin of safety (MOS) dan volume penjualan minimum.  Berdasarkan laba yang direncanakan bisa diketahui volume penjualan yang harus dicapai sehingga perusahaan bisa merencanakan penjualan untuk periode yang akan datang.

  1. Metode Penelitian

    1. Ruang lingkup Penelitian

Mencakup perencanaan penjualan furniture dalam hal ini bookcase CA 60 mewakili range colonial dan bookcase HBO 4 mewakili range Havana.  Range Colonial dan Range Havana dibedakan atas dasar perbedaan proses finishing dimana Colonial menggunakan finishing serlak sedangkan Havana menggunakan finishing spray/NC-Melamine.

    1. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya
      1. Volume Penjualan

Jumlah furniture yang dijual oleh perusahaan per tahun dan diukur dalam satuan unit, dalam hal ini sample yang diambil adalah Bookcase / CA 60 mewakili Colonial range dan Bookcase / HBO 4 mewakili Havana Range.

      1. Harga Jual

Harga per Unit Book case CA 60 dan HBO 4 yang ditetapkan oleh perusahaan untuk dijual kepada para konsumen yang dinyatakan dalam rupiah per unit.

      1. Penjualan

Nilai yang diperoleh perusahaan dari transaksi pembelian Bookcase CA 60 dan HBO 4 oleh konsumen yang dinyatakan rupiah per unit.

 

      1. Biaya Tetap

Biaya yang jumlah total tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkat tertentu yang diukur dalam satuan rupiah.

      1. Biaya Variabel

Biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding atau proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas. Diukur dalam satuan rupiah persatuan.

      1. Laba

Keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan Bookcase CA 60 dan HBO 4 setelah dikurangi dengan total biaya yang diukur dalam satuan rupiah.

    1. Teknik Pengumpulan Data
      1. Wawancara

Metode ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara langsung kepada pimpinan dan karyawan perusahaan yang diteliti.

      1. Observasi

Adalah dengan mengadakan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti.

      1. Study Kepustakaan

Yaitu penelitian dengan cara mencatat bahan-bahan yang diperlukan dari buku-buku literature, catatan kuliah serta bacaan lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

    1. Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh CV. Nova Furniture yang keseluruhannya berupa data sekunder. Data Sekunder ini adalah :

      1. Gambaran umum perusahaan
      2. Jumlah Produksi tahun 2002
      3. Harga jual per unit tahun 1998 – 2002
      4. Jumlah penjualan per tahun dari tahun 1998 – 2002
      5. Jumlah perincian biaya dari tahun 1998 – 2002
    1. Teknik Analisis Data
      1. Forecast Penjualan

Untuk mencari estimasi volume penjualan pada periode yang akan datang dianalisis dengan trend parabolic,  (Djarwanto, 1993 : 285)

Y = a + bX + cX2

Dimana :

a = Nilai Y apabila X = 0

b = Trend increment

c =  perubahan pada kecondongan per unit x, yaitu 1 tahun

Rumus untuk mendapatkan nilai a, b dan c adalah :

2  Y = + 4

Dari volume penjualan yang diramalkan per periode kemudian dibandingkan dengan penjualan riil pada periode yang bersangkutan untuk didapat selisih/penyimpangan penjualan tertinggi dan terendah.

      1. Pemisahan Biaya Semi Variabel

Untuk memisahkan komponen biaya semi variabel kedalam komponen biaya tetap dan biaya variabel.

Metode yang digunakan adalah kuadrat terkecil atau linier least square method ( Mulyadi, 1981 : 44)

b =

a =

Dimana  a    = unsur biaya tetap

b    = unsur biaya variabel

c.  Perencanaan Biaya Variabel

Untuk mengetahui besarnya biaya variabel pada periode yang akan datang.

  1. Biaya bahan baku

Volume produksi x harga per unit bahan baku.

  1. Biaya finishing

Volume produksi x tarif biaya finshing per unit

  1. Biaya tenaga kerja langsung

Volume produksi x tarif upah tenaga kerja/unit

  1. Biaya Inland/ distribusi container ke pelabuhan muat

Unit barang dijual x tarif biaya inland per cubikasi barang

    1. Perencanaan Biaya Tetap

Untuk mengetahui besarnya biaya tetap pada periode yang akan datang . Bila masih dalam batas relevant range maka biaya tetap tidak berubah. Relevant range adalah suatu interval kapasitas dan interval waktu dari biaya yang masih dapat di perhitungkan secara benar.

    1. Analisis Break Even

Untuk mengetahui tingkat penjualan dalam keadaan break even, digunakan analisis sebagai berikut :

  1. Metode Matematis
    1. BEP dalam rupiah ( S. Munawir, 1986 :189)

BEP =

    1. BEP dalam unit ( bambang Riyanto, 1995 : 283)

BEP =

  1. Metode Grafik

BEP
Garis Penjualan
Biaya variabel
garis biaya total
rugi
Garis Biaya Tetap
Biaya dan
Penghasilan
Volume Penjualan

GRAFIK 2.1 BREAK EVEN POINT

 

    1. Analisis Margin Of Safety

Untuk mengetahui tingkat penjualan yang aman bagi perusahaan .

 

MOS =    %

 

Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang menunjukkan posisi sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan selama satu periode. Selain itu, laporan keuangan juga menunjukkan kinerja keuangan perusahaan yang ditunjukkan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Menurut S. Munawir (2007:5) dalam buku analisa laporan keuangan menyebutkan “Laporan Keuangan adalah suatu bentuk pelaporan yang terdiri dari Neraca dan perhitungan Laba Rugi serta Laporan Perubahan Modal Kerja, dimana Neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan perhitungan Laba Rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu, dan Laporan Perubahan Modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan.
Sedangkan menurut Djarwanto (2005:1) “Laporan keuangan menggambarkan informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang sangat berguna bagi berbagai pihak, baik pihak-pihak yang ada dalam perusahaan, maupun pihak-pihak yang berada di luar perusahaan”
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah alat penyedia informasi keuangan suatu perusahaan sebagai hasil ringkasan kegiatan dari suatu proses pencatatan transaksi keuangan yang terjadi selama periode akuntansi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan.
2.1.2 Susunan Laporan Keuangan
Neraca
1. Pengertian neraca neraca (balance sheet) adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu. Keadaan keuangan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut pasiva, atau dengan kata lain, aktiva adalah investasi di dalam perusahaan dan pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut. Jadi, Neraca menggambarkan posisi keuangan dari suatu kesatuan usaha yang merupakan keseimbangan antara aktiva (assets), utang (liabilities), dan modal (equity) pada suatu tanggal tertentu. Bila disusun dalam bentuk persamaan akan nampak bahwa :
Aktiva = Utang + Modal
1.Aktiva Lancar (Current asset)
Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau diuangkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumsi dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal)
Yang termasuk kelompok aktiva lancar adalah :
a. Kas atau uang tunai yang dapat digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan.
b. Piutang usaha (Account Receivable) adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit
c. Surat berharga merupakan investasi jangka pendek untuk pemanfaatan dana yang tidak digunakan dan sifatnya dapat diperjual-belikan dengan segera
d. Persediaan Barang Dagang (Merchandise Inventory) adalah persediaan barang yang siap untuk dijual.
e. Biaya dibayar dimuka, yaitu Biaya yang manfaatnya akan dinikmatidi masa yang akan datang dan akan menjadi biaya habis dikomsumsi dalam jangka pendek.
2. Aktiva Tidak Lancar
Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relative permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan)
Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar adalah :
a. Investasi jangka panjang bagi perusahaan yang cukup besar dalam arti mempunyai kekayaan atau modal yang cukup atau sering melebihi dari yang dibutuhkan, maka perusahaan ini dapat menanamkan modalnya dalam investasi jangka panjang diluar usaha pokoknya
b. Aktiva tetap, yaitu kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya bisa dilihat dan dimiliki oleh perusahaan serta dapat digunakan dalam operasi yang bersifat permanen
c. Aktiva tetap tidak berwujud adalah kekayaan perusahaan yang secara fisik tidak nampak, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan
d. Aktiva lain-lain adalah kekayaan atau aktiva perusahaan yang tidak dapat atau belum dapat dimasukkan dalam klasifikasi-klasifikasi sebelumnya
2. Kewajiban atau Hutang (Liabilities atau Pasiva)
Kewajiban atau hutang adalah kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang timbul dari transaksi yang terjadi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur. Pada umumnya hutang dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.Hutang lancar (Current Liabilities)
Hutang lancar atau Hutang jangka pendek adalah hutang yang harus dilunasi dalam waktu tidak lebih dari satu tahun atau satu siklus normal operasi perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. Yang termasuk kelompok hutang lancar adalah :
a. Hutang dagang / usaha, yaitu hutang-hutang yang timbul karena adanya pembelian barang-barang dagangan secara kredit.
b. Hutang wesel, yaitu hutang yang disertai dengan janji tertulis untuk melakukan penbayarab sejumlah tertentu di masa yang akan datang.
c. Hutang pajak, menunjukkan jumlah hutang perusahaan kepada lembaga pemerintah pemungut pajak.
d. Biaya yang masih harus dibayar, biaya-biaya yang telah terjadi tetapi belum dilakukan pembayaran.
e. Penghasilan diterima dimuka adalah penerimaan uang untuk penjualan barang atau jasa yang belum direalisasi
2.Hutang Jangka Panjang (Long Term Debt)
Hutang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Hutang jangka panjang antara lain adalah:
(a) Hutang obligasi
(b) Hutang hipotek, adalah hutang yang dijamin dengan aktiva tertentu.
(c) Pinjaman jangka panjang lainnya
3 Modal
Ekuitas adalah hak pemilik atas aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih (jumlah aktiva dikurangi kewajiban). Ekuitas terdiri dari setoran pemilik, sisa laba yang ditahan dan lain-lain.
Laporan Laba Rugi
Pengertian laporan laba rugi adalah suatu laporan yang memberikan gambaran ringkas dan disusun secara sistematis mengenai penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang menjadi tanggungan perusahaan dalam menjalankan usahanya, sehingga diketahui laba yang diperoleh/rugi yang diderita perusahaan selama periode tertentu.
2.2 Pengertian Modal Kerja dan Macam-macam Modal Kerja
2.2.1 Definisi Modal Kerja
Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk membiayai operasi sehari-hari, misalnya untuk membeli bahan mentah, gaji pegawai, upah, dan lain sebagainya. Pada intinya setiap perusahaan akan selalu membutuhkan modal kerja dalam menjalankan seluruh kegiatan operasional didalam perusahaan tersebut.
Dana yang telah dikeluarkan itu (modal kerja) diharapkan oleh setiap penanam modal (investor) akan dapat kembali masuk ke dalam perusahaan dalam jangka waktu pendek atau dalam jangka waktu panjang.
Dana yang telah dikeluarkan ini akan kembali ke dalam perusahaan melalui penjualan hasil produksinya (perusahaan dagang) atau jasa ditambah keuntungan yang maksimal.
Modal kerja itu sendiri adalah sejumlah dana yang terikat dalam unsur-unsur aktiva lancar dan pada umumnya akan berputar dalam periode tertentu dan diharapkan akan kembali dalam periode tertentu juga.
Adapun modal kerja yang cukup akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan seluruh kegiatan didalam perusahaannya, sehingga tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan operasi usaha dan menutupi seluruh pengeluaran atas biaya-biaya yang timbul karena adanya operasi usaha tersebut.
Tetapi apabila modal kerjanya berlebihan maka akan mengakibatkan sebagian dana yang ada atau yang tersedia tidak produktif lagi. Apabila seperti ini terjadi maka akan mengurangi atau memperkecil kesempatan perusahaan tersebut untuk memperoleh laba yang maksimal
Karena kelebihan modal kerja akan menimbulkan pemborosan, investasi-investasi pada cabang yang tidak diinginkan dan dapat mengalami kerugian dari bunga bank karena saldo bank yang tidak dipergunakan, apabila perusahaan tersebut mendapatkan modal kerja dengan jalan meminjam dari bank. Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimilki perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus disediakan untuk membiayai kegiatan operasi sehari-hari. ”Modal Kerja adalah suatu investasi perusahaan didalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), Piutang Dagang dan Persediaan”. (Houston & Brigham, 2006; 131).
“Modal Kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap jangka pendek” (Djarwanto, 2005; 87).
Dari kedua definisi di atas, menunjukan bahwa modal kerja adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan yang dipergunakan juga untuk operasi perusahaan tersebut. Di bawah ini diterangkan tiga konsep dasar atau definisi dari modal kerja menurut (S. Munawir, 2007, 114-116) yaitu
a. Konsep Kuantitatif
Konsep ini menitikberatkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai kebutuhan operasional yang bersifat rutin atau menunjukkkan sejumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar (gross working capital).
Dalam konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal kerja, apakah modal kerja dibiayai dari modal para pemilik, hutang jangka panjang maupun hutang jangka pendek, sehingga dengan modal yang besar tidak mencerminkan margin of safety para kreditur jangka pendek yang besar juga, bahkan modal kerja yang besar menurut konsep ini tidak menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas perusahaan yang bersangkutan.
b Konsep Kualitatif
Konsep ini menitikberatkan pada kualitas modal kerja dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka waktu pendek (net working capital), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun jumlah aktiva lancar dari para pemilik perusahaan. Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya jumlah aktiva lancar yang lebih besar daripada jumlah hutang lancarnya (hutang jangka pendek) dan menunjukkan pula margin of protection atau tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin aktiva lancarnya.
c. Konsep Fungsional
Konsep ini menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan, pada dasarnya dana-dana yang dimiliki oleh perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (current income), ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba di masa yang akan datang. Misalnya : Bangunan, mesin-mesin, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya.
Dari aktiva tetap tersebut yang menjadi bagian dari modal kerja tahun ini adalah sebesar penyusutan (depresiasi) aktiva-aktiva tersebut.
Untuk tahun ini sebagian aktiva lancar sebagian besar merupakan unsur modal kerja, walaupun seluruhnya, ada sebagian aktiva lancar yang bukan merupakan modal kerja misalnya dalam piutang dagang yang timbul dari penjualan barang dagangan secara kredit. Dalam piutang tersebut, terdiri dari dua unsur, yaitu harga pokok barang yang dijual dan laba yang didapat dari penjualan barang tersebut.
Harga pokok dari barang yang dijual tersebut merupakan unsur modal kerja, sedangkan keuntungan yang didapat bukanlah merupakan unsur modal kerja, tetapi merupakan modal kerja yang potensial. (S. Munawir, 2007, 114-116)
2.2.2 Pentingnya Modal Kerja
Lebih dari separuh dari total aktiva perusahaan merupakan aktiva lancar. Sebagian dari investasi yang besar dan mudah diuangkan, maka aktiva lancar memerlukan perhatian yang besar dan seksama dari manager keuangan. Karena bagaimanapun aktiva lancar mempunyai pengaruh yang besar dalam menjalankan bisnis. Modal kerja harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran operasi sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan juga akan memberikan beberapa keuntungan lain.
Munawir dalam bukunya Analisa Laporan Keuamgan (2007:116-117), sebagai berikut:
a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
c. Menjamin dimilikinya kredit perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.
e. Memungkinkan bagi para pengusaha untuk memberi syarat kredit yang lebih menguntungkan bagi para pelanggannya.
f. Memungkinkan bagi para perusahan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau pun jasa yang dibutuhkan.
2.2.3 Macam-macam Modal Kerja
Modal kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menurut Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan tahun 2001 sebagai berikut :
a. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Yaitu modal kerja yang harus selalu ada pada perusahaan atau dengan kata lain jumlah modal kerja itu harus tetap ada agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan modal kerja tersebut secara terus menerus selalu diperlukan untuk kelancaran usaha dalam suatu periode akuntansi.
Modal Kerja Permanen terbagi menjadi 2, yaitu:
1) Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan kegiatan usahanya.
2) Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang digunakan untuk dapat menyelenggarakan luas produksi yang normal. Normal disini mempunyai pengertian yang fleksibel menurut kondisi perusahaannya. Apabila suatu perusahaan misalnya selama 4 atau 5 bulan rata-rata per bulannya mempunyai produksi 1000 unit. Apabila kemudian ternyata 4 atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata per bulannya 2000 unit, maka luas produksi normalnya disinipun berubah menjadi 2000 unit.
b. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)
Yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan perolehan keadaan dalam suatu periode. Modal Kerja ini dibagi menjadi 3 yaitu:
!) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
Modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan musim.
2) Modal Kerja Siklus (Cylical Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi kontinyunitas produk.
3) Modal Kerja Darurta (Emergency Working Capital)
Yaitu modal kerja yang besarnya brubah-ubah dan penyebabnya tidak diketahui sebelumnya (misalnya kebakaran, banjir, gempa bumi, buruh mogok, huru-hara dan sebagainya) (Bambang Riyanto, 2001 : 61).
2.3 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
2.3.1 Sumber-sumber Modal Kerja
Menurut Djarwanto (2005:95), pada umumnya sumber-sumber modal kerja berasal dari :
a. Pendapatan Bersih
Surat-surat berharga yang merupakan salah satu pos aktiva lancar dapat dijual dan dari penjualan tersebut akan timbul kentungan. Penjualan surat berharga ini akan menyebabkan perubahan pos aktiva lancar dari pos-pos “surat-surat berharga” menjadi pos kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan ini merupakan sumber dari modal kerja.
b. Penjualan Aktiva Tidak Lancar
Hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan merupakan sumber lain yang menambah modal kerja. Perubahan aktiva tidak lancar tersebut menjadi kas akan menambah modal kerja sebanyak hasil bersih penjualan aktiva tidak lancar tersebut.
c. Penjualan Saham atau Obligasi
Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta pada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya.
d. Dana Pinjaman dari Bank
Dana pinjaman jangka pendek bagi perusahaan merupakan sumber penting dari aktiva lancarnya, terutama tambahan modal kerja yang diperlukan untuk membiayai kebutuhan modal kerja musiman siklus, darurat dan lain-lain
e. Kredit dari suplier
Material barang-barang, supplies dapat dibeli atau dengan wesel bayar. Apabila perusahaan kemudian dapat mengusahakan menjual barang dan menarik pembayaran piutang sebelum waktu hutang dilunasi, perusahaan tersebut memerlukan sejumlah kecil modal kerja.
Sumber-sumber modal kerja dapat ditambah apabila :
1) Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan.
2) Adanya pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.
3) Adanya penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotik atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.
2.3.2 Penggunaan Modal Kerja
Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan.
Penggunaan aktiva lancar yang dapat mengakibatkan menurunnya modal kerja, menurut (S. Munawir, 2007:125-127) adalah sebagai berikut
a. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos perusahaan.
b. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahan karena adanya penjualan surat berharga atau efek.
c. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang.
d. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya.
e. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.
f. Pengambilan uang atau barang dagang oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya (prive).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan laporan sumber-sumber penggunaan dana dalam arti modal kerja adalah :
a. Menyusun laporan modal kerja
b. Mengelompokkan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current accounts antara 2 titik waktu tersebut, kedalam golongan yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang memperkecil modal kerja.
c. Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan perubahannya merupakan efek memperbesar modal kerja dan golongan kerja yang memperkecil modal kerja.
Berdasarkan informasi tersebut dapatlah disusun sumber-sumber dan penggunaan modal kerja.
2.3.3 Pengukuran efektivitas modal kerja
Di dalam mengadakan interprestasi, dan analisa efektifitas modal kerja suatu pekerjaan, seorang analisis keuangan memerlukan suatu ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan rasio adalah merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolute, untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan financial.
Menurut Djarwanto (2005:146) macam-macam rasio dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisa, maupun pada dasarnya angka-angka rasio yang ada dapat digolongkan kedalam kedua kelompok yaitu :
a. Rasio yang berdasarkan sumber data keuangan
1) Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio)
Yang tergolong didalam kategori ini adalah semua rasio yang semua datanya diambil atau bersumber pada neraca, misalnya current ratio
2) Rasio-rasio laporan laba – rugi yang dalam penyusunan semua datanya diambil dari laporan laba – rugi, misalnya gross profit margin, net operating margin, operating ratio.
3) Rasio-rasio antar laporan (inter statement)
Yaitu semua angka rasio yang penyusunan datanya berasal dari neraca dari data lainnya dari laporan laba – rugi, misalnya tingkat perputaran persediaan (inventory turn over), tingkat perputaran piutang (account receivable turnover), sales to inventory, sales to fixed asset.
b. Angka-angka rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut
1) Rasio Likuiditas digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
2) Rasio Leverage mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang serta menilai sampai sejauh mana sumber pembiayaan perusahaan berasal dari pinjaman.
3) Rasio Aktifitas mengevaluasi kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan harta yang dimilikinya.
4) Rasio Profitabilitas mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan.
Oleh karena itu berdasarkan tujuan dari penganalisaan dalam penulisan ini maka disini hanya akan diterangkan mengenai rasio profitabilitas. Ratio ini sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efektifitas modal kerja yang digunakan dalam perusahaan.
Selain itu juga penting bagi kredit jangka panjang dan para pemegang saham yang ingin mengetahui prospek pembayaran bunga dan deviden di masa yang akan datang.
Untuk mengetahui semua itu perlu angka-angka rasio yang ada hubungannya dengan modal kerja, serta hasil yang ingin dicapai sebagai akibat dari penggunaan modal kerja tersebut. Rasio yang berhubungan erat dengan modal kerja dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Modal kerja yang cukup memang sangat penting bagi perusahaan, tapi berapakah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Sifat umum atau tipe perusahaan mempunyai perbedaan kebutuhan modal kerja, misalnya antara perusahaan jasa dengan perusahaan industri ataupun perusahaan perdagangan. Perusahaan dalam bidang industri relatif membutuhkan modal kerja yang relatif besar dibandingkan dengan perusahaan di bidang jasa ataupun perdagangan, karena dalam produksi barang membutuhkan investasi bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi untuk menjamin seluruh kelancaran-kelancaran penjualan. Sedangkan pada perusahaan dagang kebutuhan modal kerja relatif kecil karena hanya memerlukan persediaan barang jadi. Sama halnya dengan perusahaan jasa yang hanya membutuhkan modal kerja relatif karena investasi yang diperlukan dalam persediaan dan investasi dalam piutang pencairannya untuk menjadi kas relatif cepat.
2. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang yang akan dijual serta harga per satuan dari barang tersebut.
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual maupun bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. makin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau untuk memperoleh barang tersebut makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Di samping itu harga beli per unit barang juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan, semakin besar harga beli per unit barang yang akan dijual akan semakin besar pula kebutuhan modal kerja.
Jika syarat kredit diterima perusahaan pada waktu pembelian menguntungkan, berarti makin sedikit uang kas yang harus diivestasikan dalam persediaan bahan atau barang dagangan, demikian pula sebaliknya. Di samping itu modal kerja yang di pengaruhi oleh syarat penjual barang, dimana semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam sektor piutang. Dan untuk mengurangi kebutuhan modal kerja dan resiko piutang tak tertagih perusahaan biasanya memberikan potongan tunai.
3. Tingkat Perputaran Persediaan
Tingkat perputaran persediaan (inventory turnover) menunjukkan bahwa berapa kali persedian tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka jumlah modal kerja yang diinvestasikan dalam persediaan akan semakin rendah.
Semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan piutang.
4. Tingkat Perputaran Piutang
Besarnya modal kerja yang dibutuhkan juga tergantung dari lamanya waktu yang diperlukan untuk menjadikan piutang menjadi uang kas. Waktu penarikan yang lebih singkat akan memperkecil modal kerja yang ditanamkan pada piutang tersebut.
5. Pengaruh Konjungtor
Pada periode makmur aktifitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang-barang yang lebih banyak karena harga yang masih rendah. Dengan meningkatnya persediaan maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak. Tetapi pada periode depresi, perusahaan berusaha secepatnya menjual barang-barangnya dan menagih pembayaran atas piutang-piutangnya kemudian uang yang diperoleh dimanfaatkan untuk membeli surat-surat berharga, melunasi hutang-hutang atau menutup kerugian.
6. Derajat risiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek
Resiko kerugian yang semakin besar sebagai akibat menurunnya nilai dibandingkan dengan harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang dan piutang akan menyebabkan semakin besar pula jumlah modal kerja yang dibutuhkan untuk membayar harga dan melunasi hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang yang sudah jatuh tempo.
7. Pengaruh Musim
Perusahaan yang penjualannya dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah modal kerja yang maksimum untuk periode relatif pendek. Modal kerja dalam bentuk persedian barang berangsur-angsur meningkat dalam bulan-bulan menjelaskan puncak penjualannya.
8. Kredit Rating dari Perusahaan
Jumlah modal kerja baik kas maupun surat-surat berharga yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas.
Penyediaan uang kas ini tergantung pada empat hal yaitu:
a. Credit ranting dari suatu perusahaan (yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam meminjam uang untuk keperluan kas dalam jangka pendek).
b. Perputaran persediaan
c. Perputaran Piutang
d. Kesempatan memperoleh potongan harga dalam pembelian
2.5 Profitabilitas Perusahaan
2.5.1 Pengertian Profitabilitas
Profitabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain menurut Drs Abdul Halim (2007:157) profitabilitas adalah sebagai berikut :
“Mengukur sampai seberapa besar efektifitas manajemen dalam mengelola asset dan equity yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba”.
Pengertian Profitabilitas merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan, rasio yang terdahulu (likuiditas, leverage dan aktivitas) menyajikan beberapa hal yang menarik tentang cara-cara perusahaan beroperasi. Tetapi rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan”. Dan menurut Houston & Brigham ( 2006;107) adalah: Hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan perusahaan”.
Sedangkan menurut Darsono, (2007:55) mengatakan bahwa pengertian dari profitabilitas adalah “Kemampuan manajemen untuk memperoleh laba. Laba terdiri dari laba kotor, laba operasi, dan laba bersih”. Jadi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dalam pendapat mengenai pengertian profitabilitas, hanya saja pendapat itu saling melengkapi sehingga benar-benar diakui bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang maksimal.
Dari definisi ini sudah terlihat jelas bahwa sasaran yang akan dicapai adalah laba perusahaan, sebab dari laba inilah kita mengetahui berapa besar kemampuan modal yang kita miliki. Dan untuk mengetahui apakah modal yang telah dikeluarkan telah mencapai hasil yang maksimal dan apakah keuntungan telah sesuai dengan yang diharapkan.
2.5.2 Arti Pentingnya Profitabilitas
Profitabilitas yang digunakan sebagai Kriteria penilaian hasil operasi perusahaan mempunyai tujuan pokok dan dapat dipakai sebagai:
a. Profitabilitas dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan kriteria yang sangat diperlukan dalam menilai sukses suatu perusahaan dalam hal kapabilitas dan motivasi dari manajemen.
b. Suatu alat membuat proyeksi laba perusahaan karena menggambarkan kolerasi antara laba dan jumlah modal yang ditanamkan.
c. Suatu alat pengendalian bagi manajemen
Profitabilitas dapat dimanfaatkan oleh pihak internal untuk menyusun target, budget, koordinasi, evaluasi hasil pelaksanaan operasi perusahaan dan pasar pengambilan keputusan penanaman modal.
2.5.3 Ratio-ratio Profitabilitas
Jenis-jenis Ratio profitabilitas adalah :
a. Gross Profit Margin
Yaitu perbandingan antara laba kotor dengan penjualan, dimana perbandingan tersebut dinyatakan dalam persentase. Semakin tinggi ratio berarti semakin baik perusahaan dalam menghasilkan laba.
Gross Profit Margin =
b. Net Profit Margin
Yaitu perbandingan antara laba setelah pajak dan penjualan yang dinyatakan dalam persentase. Semakin tinggi ratio berarti semakin baik perusahaan.
NPM =
c. Operating Profit Margin (OPM)
Yaitu perbandingan Laba operasi perusahaan dengan penjualan yang dimiliki perusahaan dan dinyatakan dalam bentuk persentase. Semakin tinggi ratio berarti semakin baik perusahaan.
OPM =
d. Earning Power of Total investment
Rasio diatas adalah perbandingan antara Laba sebelum pajak dengan total aktiva yang dinyatakan dalam persentase dan bertujuan untuk melihat profitabilitas secara keseluruhan serta efisiensi manajemen suatu perusahaan.
EPT =
e. Return On Equity (ROE)
Return On Equity adalah rasio dimana membandingkan antara laba bersih dengan modal, dimana disajikan dengan persentase. Equity disini adalah terdiri modal disetor, cadangan dan laba ditahan.
ROE =
f. Return On Investment (ROI)
ROI adalah rasio yang lazim digunakan, yaitu membandingkan seberapa perkiraan laba yang dapat diperoleh dengan investasi yang telah ditanam.
ROI =
g. Return On Asset (ROA)
ROA adalah rasio yang lazim digunakan, yaitu membandingkan seberapa perkiraan laba bersih yang dapat diperoleh dengan total asset yang ada.
ROA =

Definisi

Laporan perubahan kas (cash flow statement) atau laporan sumber dan penggunaan kas disusun untuk menunjukan perubahan kas selama satu periode dan memberikan alasan mengenai perubahan tersebut dengan menun jukan darimana sumber-sumber kas dan penggunaan-penggunaanya.

Laporan sumber dan penggunaan kas menggambarkan atau menunjukan aliran atau gerakan kas yaitu sumber-sumber penerimaan dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan.

Laporan sumber dan penggunaan kas akan dapat digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas dimasa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada.

Tujuan Cash Flow Statement yaitu:

  1. Menunjukkan perubahan kas selama satu periode.
  2. Mengidentifikasi sumber-sumber Kas selama satu periode.
  3. Mengidentifikasi penggunaan Kas selama satu periode.

Sumber Penerimaan Kas
Kas merupakan aktiva yang paling likwid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi likwiditasnya. Kas harus direncanakan dan diawasi dengan baik. Baik penerimaan maupun penggunaannya.

Sumber penerimaan kas suatu perusahaan :

1. Hasil penjualan investasi jangka panjang
2. Penjualan, emisis saham atau adanya tambahan modal dari pemilik dalam bentuk kas.
3. Pengeluaran surat tanda bukti hutang (wesel, obligasi)
4. Bertambahanya Hutang (kewajiban ) baik jangka pendek maupun panjang.
5. adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancar selain kas yang diimbangi dengan adanya penerimaan kas.
6. adanya penerimaan kas karena sewa , bunga atau devuden dari investasinya, sumbangan, hadiah dan restitusi pajak.

Sedangkan penggunaan atau pengeluaran kas dapat disebabkan karena adanya transaksi-transaksi sebagai berikut.

1). Penggunaan kas
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengambilan (prive) oleh pemilik.
c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang
d. Pembelian barang dagangan secara tunai.
e. Pembayaran biaya operasi perusahaan.
f. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pajak, denda dsb.

2). Transaksi yang tidak mempengaruhi kas
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi terhadap aktiva tetap, intangible asset dan dan wasting asset. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas.
b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang maupun tidak dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan tidak dapat ditagih.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki karena aktiva ybs telah habis disusutkan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock deviden, adanya penyisihan atau pembatasan pengguanaan laba dan adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.
e. Terhadap trasnsaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi kas tersebut harus dilakukan jurnal penyesuaian (adjustment dan reversal )

Pengertian Modal Kerja

Istilah modal kerja digunakan dalam arti yang berbeda-beda. Pendekatan yang praktis adalah dengan memperkenalkan penggunaan istilah yang ditemui pada laporan tahunan perusahaan, dimana modal kerja didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Jhon Fred Weston dan Thomas E.Copeland (1996 : 327) menjelaskan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan, dikurangi dengan kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.

Ada tiga konsep atau definisi modal kerja yang umum dipergunakan menurut Munawir S (1995 : 114), yaitu:

1.Konsep kuantitatif

Konsep ini Menitik beratkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin atau menunjukkan jumlah dana yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar.

Dalam konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal kerja, apakah modal kerja dibiayai para pemilik, hutang jangka pendek, sehingga dengan modal kerja yang besar tidak mencerminkan tingkat keamanan para kreditur jangka pendek yang besar juga. Bahkan menurut konsep ini dengan adanya modal kerja yang besar tidak menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas perusahaan yang bersangkutan.

2.Konsep Kualitatif

Konsep ini menitik beratkan pada kualitas modal kerja, dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang lancar. Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari hutang lancar dan menunjukkan pula tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin kelangsungan operasi dimasa mendatang dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman jangka pendek dengan jaminan lainnya.

3.Konsep Fungsional

Konsep ini menitik beratkan pada fungsi dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan. Pada dasarnya dana yang dimiliki oleh perusahaan sepenuhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba, ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Misalnya bangunan, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya.

Ada 2 konsep utama modal kerja menurut James C. Van Horn dan John M. Wachowicz, Jr. (1997 : 214) yaitu :

1.Modal Kerja Bersih

Yaitu perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini merupakan ukuran sejauh mana perusahaan dilindungi dari masalah likuiditas.

2.Modal Kerja Kotor

Yaitu Investasi perusahaan dalam aktiva lancar (seperti kas, sekuritas, piutang, dan persediaan).

2.2. Jenis-jenis Modal Kerja

Modal kerja merupakan kekayaan yang diperlukan oleh perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan perusahaan sehari-hari. Modal kerja ini akan selalu berputar sedangkan aktiva lancar yang umumnya akan menjadi uang kas dalam suatu periode akuntansi.

Mengenai jenis-jenis modal kerja dapat dibedakan menjadi dua bentuk menurut W.B. Taylor (1995 : 61) yaitu:

1.Modal Kerja Permanen

Yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1.Modal Kerja Primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

2. Modal Kerja Normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.

2. Modal Kerja Variabel

Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan sesuai perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara:

1.Modal Kerja Musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.

2.Modal Kerja Siklis, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan Karena fluktuasi konjungsi.

3.Modal Kerja Darurat, yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan ekonomi mendadak).

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Modal Kerja

Modal kerja yang cukup memang sangat penting bagi suatu perusahaan. Menurut Munawir S (1995 : 117) untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup oleh suatu perusahaan bukanlah hal yang mudah. Karena modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1.Sifat atau tipe dari perusahaan

Modal kerja dari suatu perusahaan jasa relatif akan lebih rendah bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja perusahaan industri, karena untuk perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, piutang maupun persediaan. Kebutuhan uang tunai untuk membayar pegawainya maupun untuk membiayai operasinya dapat dipenuhi dari penghasilan atau penerimaan-penerimaan saat itu juga, sedangkan piutang biasanya dapat ditagih dalam waktu yang relatif pendek. Sifat dari perusahaan jasa biasanya memiliki atau harus menginvestasikan modal-modalnya sebagian besar pada aktiva tetap yang digunakan untuk memberikan pelayanan atau jasanya kepada masyarakat.

Sedangkan untuk perusahaan industri, keadaan sangatlah ekstrim karena perusahaan industri harus mengadakan investasi yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam operasinya sehari-hari.

2.Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang yang akan dijual serta harga persatuan barang tersebut

Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual maupun bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. Karena semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang tersebut semakin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Disamping itu pokok persatuan barang untuk mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan.

3.Syarat pembelian bahan atau barang dagang

Syarat pembelian barang dagangan atau bahan dasar yang akan dibutuhkan untuk memproduksi barang sangat mempengaruhi jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Jika syarat kredit yang diterima pada waktu pembelian yang menguntungkan, semakin sedikit uang kas yang harus diinvestasikan dalam persediaan bahan atau barang dagangan, sebaliknya bila pembayaran atas bahan atau barang yang dibeli tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu yang pendek maka uang kas yang diperlukan untuk membiayai persediaan semakin besar pula.

4.Syarat penjualan

Semakin lunak kredit yang digunakan oleh perusahaan kepada para pembeli akan mengakibatkan semakin besar jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam sektor piutang. Untuk memperendah dan memperkecil jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam piutang dan untuk memperkecil adanya piutang yang tidak dapat ditagih, sebaiknya perusahaan memberikan potongan tunai kepada pembeli, karena dengan begitu pembeli akan tertarik untuk membayar hutangnya dalam periode diskonto tersebut.

5.Tingkat perputaran persediaan

Tingkat perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti dalam arti dibeli atau dijual kembali. Semakin tingkat perputaran persediaan tersebut maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan (terutama yang harus diinvestasikan dalam persediaan) semakin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan pekerjaan secara teratur dan efisien. Selain itu semakin cepat atau semakin tinggi perputaran akan semakin memperkecil resiko kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.

Langkah-langkah Dalam Analisis Sumber Dan Penggunaan Modal Kerja

Sebelum mengemukakan langkah-langkah dalam menganalisis sumber dan penggunaan modal kerja, akan dikemukakan terlebih dahulu yang termasuk kedalam sumber modal kerja dan juga penggunaan modal kerja.

Sumber Modal Kerja

Munawir S (1995 : 119) menjelaskan pada dasarnya sumber modal kerja itu terdiri dari 2 bagian pokok, yaitu:

a.Bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan, dan

b.Jumlah modal kerja yang variabel yang jumlahnya tergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan diluar aktivitas yang biasa.

Sedangkan sumber-sumber modal kerja suatu perusahaan menurut Munawir S (1995 : 121) pada umumnya dapat berasal dari :

1)Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah pendapatan yang nampak dalam laporan perhitungan laba rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi.

2)Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek), dalam menganalisis sumber modal kerja yang berasal dari keuntungan penjualan surat-surat berharga harus dipisahkan dengan modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok perusahaan. Dari hasil penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi kas.

3)Penjualan aktiva tidak lancar, perubahan aktiva tidak lancar menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja. Apabila hasil dari penjualan aktiva tetap atau aktiva tidak lancar ini tidak digunakan untuk mengganti aktiva yang bersangkutan, akan menyebabkan keadaan aktiva lancar sedemikian besarnya sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan (adanya modal kerja yang berlebih-lebihan).

4)Penjualan saham atau obligasi, Perusahaan dapat mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar) disamping menimbulkan beban bunga yang besar, juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan.

2.4.2. Penggunaan Modal Kerja

Penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan.

Penggunaan yang mengakibatkan turunnya modal kerja menurut Munawir S (1995 : 125) adalah sebagai berikut :

1)Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan.

2)Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat-surat berharga atau efek, maupun kerugian insidentil lainnya.

3)Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang.

4)Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.

5)Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali saham perusahaan yang beredar, atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar.

6)Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Dengan kata lain adanya penurunan sektor modal yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar atau bertambahnya hutang lancar dalam jumlah yang sama.

Disamping penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan berkurangnya modal kerja tersebut, ada pula pemakaian aktiva lancar yang tidak merubah jumlahnya baik jumlah modal kerjanya maupun jumlah aktiva lancarnya itu sendiri, yaitu penggunaan modal kerja atau aktiva lancar yang hanya menyebabkan atau mengakibatkan berubahnya bentuk aktiva lancar (modal tidak berubah), misalnya :

– Pembelian efek secara tunai.

– Pembelian barang dagangan atau bahan-bahan lainnya secara tunai.

– Perubahan suatu bentuk piutang kebentuk piutang lainnya.

2.4.3. Langkah-langkah Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Laporan tentang perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana manajemen mengelola perputaran atau sirkulasi modalnya. Laporan ini akan dapat memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mungkin timbul baik dari pihak manajemen, para pemegang saham, kreditur, maupun pihak-pihak lainnya.

Adapun langkah-langkah dalam penyusunan laporan sumber dan penggunaan modal kerja menurut Bambang Riyanto (1995:355) adalah sebagai berikut :

1)Menyusun laporan perubahan modal kerja, laporan ini menggambarkan perubahan dari masing-masing unsur modal kerja antara dua titik waktu. Dengan laporan tersebut dapat diketahui adanya kenaikan atau penurunan modal kerja dan besarnya perubahan modal kerja.

2)Mengelompokan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current accaounts antara dua titik waktu tersebut kedalam golongan yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek memperkecil modal kerja.

3)Mengelompokan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan yang perubahannya mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek memperkecil modal kerja.

4)Berdasarkan informasi diatas dapatlah disusun laporan sumber-sumber dan penggunaan modal kerja.

Analisa Break Event

Pengertian

Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya)

Namun ada juga yang membuat pengertian break even point sebagai berikut :

1). Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = Total biaya).

2). Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost Volume Profit Analysis. Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :

a. Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
b. Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu.
c. Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak menderita rugi.

3). Menurut Purba (2002) Titik impas (break even) berlandaskan pada pernyataan sedarhana, berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.

4). Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian.

5). Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba tidak ada rugi.

6). Menurut Garrison dan Noreen (2004) Break even point adalah tingkat penjualan yang diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya Tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah penjualan dan biasanya ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan, bukan fungsi dari waktu, misalnya biaya angkut barang.

Manfaat BEP adalah
1. Alat perencanaan untuk hasilkan laba
2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
3. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
4. Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Kompenen yang berperan pada BEP yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini

Ada 2(dua) alasan mengapa para pelaku bisnis menerima alasan ini:
1. Analisis ini berdasarkan pada asumsi yang lugas.
2. Perusahaan-perusahaan telah menemukan bahwa informasi yang didapat dari metode titik impas ini sangat menguntungkan di dalam pengambilan keputusan.

Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut, yaitu :
1. Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas.
2. Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki.
3. Meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin.

2. Kegunaan Break Even Point
Diatas telah dikemukakan bahwa analisa break even point sangat penting bagi pimpinan perusahaan untuk mengetahui pada tingkat produksi berapa jumlah biaya akan sama dengan jumlah penjualan atau dengan kata lain dengan mengetahui break even point kita akan mengetahui hubungan antara penjualan, produksi, harga jual, biaya, rugi atau laba, sehingga memudahkan bagi pimpinan untuk mengambil kebijaksanaan.

Analisis Break Even Point berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhui. Asumsi-asumsi tersebut adalah :
1. Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikelompokan dalam biaya variabel dan biaya tetap.
2. Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya variabel per unitnya adalah tetap.
3. Besarnya biaya tetap secara total tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya tetap per unitnya berubah-ubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
4. Jumlah unit produk yang terjual sama dengan jumlah per unit produk yang diproduksi.
5. Harga jual produk per unit tidak berubah dalam periode tertentu.
6. Perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, apabila lebih dari satu jenis komposisi masing-masing jenis produk dianggap konstan (tetap).

Analisa break even point juga dapat digunakan oleh pihak menejemen perusahaan dalam berbagai pengambilan keputusan, antara lain mengenai :
1. Jumlah minimal produk yang harus terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
2. Jumlah penjualan yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
3. Besarnya penyimpanan penjualan berupa penurunan volume yang terjual agar perusahaan tidak menderita kerugian.
4. Untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya maupun volume penjualan terhadap laba yang diperoleh.

Break even point juga dapat digunakan dengan dalam tiga cara terpisah, namun ketiganya saling berhubungan, yaitu untuk :
1. Menganalisa program otomatisasi dimana suatu perusahaan akan beroperasi secara lebih mekanis dan otomatis dan mengganti biaya variabel dengan biaya tetap.
2. Menelaah impak dari perluasan tingkat operasi secara umum.
3. Untuk membuat keputusan tentang produk baru yang harus dicapai jika perusahaan menginginkan break even point dalam suatu proyek yang diusulkan.

Menurut Harahap (2004) Dalam analisa laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus break even point untuk mengetahui :
1) Hubungan antara penjualan biaya dan laba.
2) Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan biaya variabel.
3) Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi.
4) Untuk mengetahui hubungan antara cost, volume, harga dan laba.

Analisa break even point memberikan penerapan yang luas untuk menguji tindakan-tindakan yang diusulkan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan keputusan yang lain. Analisa break even point tidak hanya semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang break even saja, akan tetapi analisa break even point mampu memeberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

3. Kelemahan Analisa Break Even Point.
Sekalipun Analisa break even ini banyak digunakan oleh perusahaan, tetapi tidak dapat dilupakan bahwa analisa ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan utama dari analisa break even point ini antara lain : asumsi tentang linearity, kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk jangka waktu yang pendek.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Posted: April 8, 2011 in Uncategorized
  1. Jelaskan mengenai Neraca menurut yang anda ketahui ?

Jawabanya :

Neraca (Balance Sheet atau Statement of Financial Position) adalah   bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aktiva, kewajiban, dan modal yang dihubungkan dengan persamaan berikut:

aktiva = kewajiban + modal

Informasi yang dapat dilihat dari neraca antara lain adalah posisi sumber kekayaan perusahaan dan sumber pembiayaan untuk memperoleh kekayaan perusahaan tersebut dalam suatu periode akuntansi (bulanan, riwulan, kwartal, atau tahunan).

 

2.   Per tanggal berapa, tanggal neraca disajikan dan mengapa ?

Jawabanya :

Pada tanggal 30/31 akhir bulan dikarenakan perusahaan merekap  semua transaksi hutang dan puitang yang membutuhkan waktu yg begitu lama untuk menyajikan semua laporan keuangan dalam neraja lajur dan setelah semua di selesaikan barulah diserahkan kepada pimpinan.

 

3.   Bagaimana persamaan keseimbangan untuk suatu neraca ?

Jawabanya :

  • Perusahaan menyajikan aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban jangka pendek terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu diatur dalam SAK khusus. Aktiva lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo.
  • Perusahaan harus mengungkapkan informasi jumlah setiap aktiva yang akan diterima dan kewajiban yang dibayarkan sebelum dan sesudah dua belas bulan dari tanggal neraca.

Apabila perusahaan menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi perusahaan yang dapat diidentifikasi dengan jelas, maka klasifikasi aktiva lancar dan tidak lancar serta kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca memberikan informasi yang bermanfaat dengan membedakan aktiva bersih sebagai modal kerja dengan aktiva yang digunakan untuk operasi jangka panjang.

 

4.   Mengapa laporan tahunan menyajikan neraca, L/R, & arus kas lebih dari 1 tahun, jelaskan menurut pendapat kalian ?

Jawabanya :

Dengan menyajikan neraca, L/R dan arus kas yang waktunya lebih dari 1 tahun merupakan perusahaan yang sangat ingin melihat perubahan-perubahan pada transaksi atau perkiraan dalam suatu laporan keuangan nya dengan tahun sebelumnya, apakah naik dan turunya suatu aliran kas pada perusahaan tersebut.

 

5.   Sebutkan jenis2 dari kewajiban perusahaan ?

Jawabanya :

  • Hutang adalah kewajiban perusahaan pada pihak ketiga untuk melakukan sesuatu yang pada umumnya dalah pembayaran uang, penyerahan barang maupun jasa pada waktu-waktu tertentu.
  • Modal / Capital adalah hak milik atas kekayaan dan harta perusahaan yang berbentuk hutang tak terbatas suatu perusahaan kepada pemilik modal hingga jangka waktu yang tidak terbatas. Rumus modal adalah harta atau aset dikurangi dengan kewajiban atau hutang.
  • Liabilitas jangka pendek
  • Liabilitas jangka panjang
  • Laba Rugi perusahaan

Syarat-Syarat Laporan Keuangan

Posted: Februari 27, 2011 in Uncategorized

LAPORAN KEUANGAN

A. PENDAHULUAN

Laporan keuangan adalah laporan yang di rancang untuk para pembuat keputusan baik di dalam maupun diluar perusahaan mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) tahun 1984 yang di keluarkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyebutkan bahwa laporan keuangan meliputi neraca , perhitungan rugi/laba dan catatan atas laporan keuangan . Untuk lebih dapat menggambarkan cara jelas sifat dan perkembangan perubahan yang di alami perusahaan dari waktu ke waktu, sangat dianjurkan agar perusahaan menyusunlaporan keuangan komparatif, setidaknya untuk duaa tahun terakhir.

Hasil akhir dari suatu proses akuntansi adalah berupa laporan keuangan. Setiap perusahaan pada periode akhir akuntansi harus menyusun laporan keuangan, baik untuk kepentingan intern maupun ekstern.

 

B. SYARAT – SYARAT LAPORAN KEUANGAN

Syarat laporan keuangan laporan yang baik harus memenuhi kriterua sebagai berikut :

 

1.      Relevan artinya bahwa informasi yang dijadikan harus ada hubungan dengan pihak-pihak yang memerlukan untuk mengambil keputusan.

2.      Dapat dimengerti artinya bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan secara jelas dan mudah difahami oleh para pemakainya.

3.      Daya uji artinya bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan konsep-konsep dasar akuntansidan prinsip-prinsip akuntansi yang dianut, sehingga dapat diuji kebenarannya oleh pihak lain.

4.      Netral artinya bahwa laporan keuangan yang disajikan bersifat umum, objektif dan tidak memihak pada kepentingan pemakai tertentu.

5.      Tepat waktu artinya bahwa laporan keuangan harus di sajikan tepat pada waktunya .

6.      Daya banding artinya bahwa perbandingan laporan keuangan dapat diadakan baik antara laporan perusahaan dalam tahun tertentu dengan tahun sebelumnya atau laporan keuangan perusahaan tertentu dengan perusahaan lain pada tahun yang sama.

7.      Lengkap artinya bahwa laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syarat-syarat tersebut diatas dan tidak menyesatkan pembaca.

 

C. LAPORAN RUGI – LABA

Laporan rugi-laba adalah suatu laporan yang memberikan informasi keberhasilan yang di capai atau kegagalan yang menimpa suatu perusahaan di dalam menjalankan usahanya dalam jangka waktu (periode) tertentu yang dinilai atau diukur dengan jumlah satuan uang.  Rugi atau laba perusahaan dapat dihitung dengan perbandingan antara jumlah pendapatan dan jumlah beban selama satu periode akuntansi. Jika jumlah pendapatan lebih besar dibandingkan jumlah beban maka perusahaan tersebut mendapatkan laba. Sebaiknya jumlah pendapatan lebih kecil dibandingkan jumlah beban maka perusahaan tersebut menderita kerugian..

Dalam menyusun laporan rugi laba perlu diperhatikan judul; laporan, yang memuat nama perusahaan, nama lapopran dan periode laporan tersebut dengan penulisan secara berturut-turut menjadi tiga baris. Contoh:

 

 

RETNO BEAUTY SALON

LAPORAN RUGI-LABA

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIRAN 31 DESEMBAR 1990

 

Adapun unsur – unsur dari laporan rugi-laba adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan

Pendapatan perusahaan selama satu periode akuntansi ini harus kita rinci, mana yang termasuk pendapatan yang merupakan usaha pokok (pendapatan operasional) dan mana yang merupakan pendapatan diluar usaha pokok (pendapatan non operasional).

2.   Beban

Demikian juga beban yang dikeluarkan oleh perusahaan selama satu periode akuntansi harus kita perinci mana yang termasuk beban operasional yaitu beban yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan usaha pokok perusahaan, dan beban non operasional yaitu beban yang di krluarkan untuk membiayai kegiatan diluar usaha pokok perusahan.

3.   Saldo rugi-laba

Saldo rugi-laba itu kita peroleh dengan jalan membandingkan antara jumlah rincian pendapatan danjumlah rincian tersebut diatas.

 

Bentuk la[oran rugi-laba dapat dibuat dalam dua bentuk yaitu:

 

a.    Laporan rugi-laba berbentuk singel step

Bentuk ini juga disebut bentuk langsung yaitu bentuk laporan rugi-laba yang menggabungkan semua unsur pendapatan menjadi satu kelompok dan semua beban menjadi satu kelompok. Cara menyusunnya adalah bagian pertama adalah perincian pendapatan baik pendapatan operasional maupun pendapatan non oiperasional. Kemudian bagian kedua merupakan perincian beban baik beban operasional maupun beban non operasional. Setelah itu bagian ketiga adalah saldo rugi-laba yang merupakan selisih antara juml;ah perincian pendapatan dan jumlah perincian beban.

 

b.   Laporan rugi-laba berbentuk multiple step

Bentuk ini juga disebut bentuk bertahap yaitu bentuk laporan rugi-laba yang unsur pendapatan maupun beban dipisahkan atas dasar operasional dan usaha non operasional dan usaha non operasional. Cara penyusunannya adalah sebagai berikut :

Bagian pertama adalah perincian pendapatan operasional, kemudian bagian kedua adalah perincian beban operasional. Bagian keempat untuk memerinci pendpatan maupun beban non oprasoinl, kemudian bagian terakhir untuk mencari saldo rugi – laba bersih.

 

Dalam menyusun laporan rugi – laba sebaiknya unsus beban disusun secara urut dari jumlah terbesar ke jumlah terkecil kecuali unutk beban serba – serbi atau beba lain – lain.

Contoh soal :

Di bawah ini daftar rekening nomnal sebuah perusahaan Bengkel Mobil Anugerah pada tanggal 31  Desember 1991.

Beban gaji                                          Rp. 3.500.000,00

Pendapatan servis                               Rp. 6.450.000,00

Beban perlengkapan bengkel             Rp. 2.330.000,00

Beban administrasi bank                    Rp.    156.000,00

Pendapatan cat duco                          Rp. 7.200.000,00

Beban Penyususutan bengkel             Rp. 1.500.000,00

Pendapatan bunga                              Rp. 1.345.000,00

Beban perlengkapan kantor                Rp.    845.000,00

Beban penyusutan peralatan kantor   Rp. 1.200.000,00

Beban lain-lain                                   Rp.   450.000,00

Dari data tersebut di atas jika dibuat perhitungan rugi-laba dengan menggunakan bentuk singel step maupun multiple step terlihat sebagai berikut:

1.      Bentuk single step.

 

 

BENGKEL MOBIL ANUGERAH

Perhitungan Rugi – Laba

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1991

 

 
Pendapatan :

 

–  Pendapatan cat duko                                                                                                   Rp.  7.200.000,00

–  Pendapatan servis                                                                                                         Rp.  6.450.000,00

–  Pendapatan bunga                                                                                                        Rp.  1.345.000,00  +

Jumlah pendapatan                                                                                                         Rp. 14.995.000,00

 

 

Beban :

 

–  Beban gaji                                                            Rp. 3.500.000,00

–  Beban perlengkapan bengkel                           Rp. 2.330.000,00

–  Beban penyusutan peralatan kantor              Rp. 1.500.000,00

–  Beban penyusutan kantor                                Rp. 1.200.000,00

–  Beban perlengkapan kantor                             Rp.    845.000,00

–  Beban administrasi Bank                                  Rp.    156.000,00

–  Beban lain – lain                                                 Rp.    450.000,00  +

 
Jumlah beban                                                                                                                    Rp.     9.981.000,00  _

Laba bersih                                                                                                                        Rp.     5.014.000,00

 

 

2. Bentuk Multiple Step

 

 

BENGKEL MOBIL ANUGERAH

Perhitungan Rugi – Laba

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1991

 

 
Pendapatan operasional :

-Pendapatan cat duco                                                                                                        Rp.  7.200.000,00

-Pendapatan servis                                                                                                              Rp.  6.450.000,00    +

Jumlah pendapatran operasional                                                                                    Rp.13.650.000,00    +

 

Beban operasional:

-Beban gajih                                                   Rp.  3.500.000,00

-Beban perlengkapan bengkel                     Rp.  2.330.000,00

-Beban penyusutan peralatan bengkel      Rp.  1.500.000,00

-Beban penyusutan peralatan kantor        Rp.  1.200.000,00

-Beban peralatan kantor                              Rp.     845.000,00

-Beban lain-lain                                              Rp.     450.000,00   +

 
Jumlah beban operasional                                                                                                  Rp.  9.825.000,00   –

 

 

Laba operasional                                                                                                                  Rp.  3.825.000,00

 

Pendapatan /beban non operasional:

-Pendapatan bunga                                       Rp.  1.345.000,00

-Beban administrasi bank                            Rp.     156.000,00  –

Laba non operasional                                                                                                          Rp.  1.189.000,00   +

 

Laba bersih sebelum pajak                                                                                                Rp.  5.014.000,00

 

 

A. LAPORAN PERUBAHAN MODAL

Laporan perubahan modal adalah suatu laporan atau informasi yang menggambarkan perubahan-peubahan atas modal yang terjadi pada suatu periode akuntansi.

Dalam laporan perubahan modal ini akan terlihat adanya perubahan dari modal awal menjadi modal akhir.

Adapun yang menjadi unsur-unsur laporan perubahan modal adalah:

 

1.   Modal awal yaitu modal yang di tanamkan pada awal periode akuntansi.

2.      Rugi atau laba perusahaan dalam suatu periode akuntansi. Jika perusahaan mendapat laba, maka besarnya laba akan menambah modal awal. Sebaliknya jika perusahaan menderita rugi, maka besarnya rugi akan mengurangi modal awal.

3.      Setoran modal atau tambahan investasi yaitu penambahan investasi modal oleh pemilik selama periode akuntansi berjalan. Setoran modal ini akan akan menambah besarnya modal awal.

4.      Pengambilan pribadi pemilik yaitu pengambilan aktiva perusahaan untuk keperluan pribadi pemilik. Pengambilan pribadi ini akan mengurangi besarnya modal awal.

 

Adapun bentuk laporan perusahaan modal adalah sebagai berikut :

 

 

BENGKEL MOBIL ANUGERAH

 

Perhitungan Rugi – Laba

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1991

 

 
Modal……………..per 1 Januari 1991                                                                Rp.     xxxxxxx

Setoran/tambahan investasi                                                                                  Rp.     xxxxxxx

Rp.     xxxxxxx

 

Rugi/laba                                                                      Rp.      xxxx

Prive…….                                                                     Rp.      xxxx   +/-

Penambahan/pengurangan modal                                                                       Rp.     xxxxxxx   +/-

 
Modal…………..per 31 Desember 1991                                                             Rp.     xxxxxxx

 

 

 

Untuk perusahaan yang berbentuk Perseron Terbatas ( PT) dinamakan laporan laba ditahan yang bentuknya sebagai berikut :

 

 

PT. ANJANGSANA

 

Laporan Laba Ditahan

Periode yang berakhir 31 Desemmber 1991

 
Laba ditahan, 1 Januari 1991                                                                               Rp.     xxxxxx

 

Laba bersih tahun 1991                                        Rp.      xxxx

Deviden yang dibagikan tahun 1991                 Rp.      xxxx   –

 
Penambahan laba ditahan                                                                                     Rp.     xxxxxx  +

Laba ditahan, 31 Desember 1991                                                                        Rp.     xxxxxx

 

 

 

 

E. NERACA

 

Neraca adalah laporan keuangan yang disusun secara sistematis yang menggambarkan posisi keuangan pada suatu saat tertentu  yang terdiri aktiva, uatang dan modal. Neraca dapat dibuat dalam dua bentuk yaitu :

 

1. Neraca yang berbentuk rekening/skontro ( Account Form )

Bentuk ini memepunyai dua belah sisi yaiut sisi debit dan sisi kredit. Sisi debit untuk merinci macamnya aktiva sedangkan sisi kredit unutk memerinci macamnya uatang dan modal. Perincian aktiva lancar dalam neraca disusun berdasaekan urutan likuiditas, ari yang paling lancar ke yang kurang lancar, sedangkan untuk aktiva tetap penyusunannya berdasarkan urutan kekekalannya, yaitu dari yang paling kekal ke yang kurang kekal. Perincian utang disusun berdasarkan jangka waktu pembayarannya yaitu dari yang berjangka oendek ke yang berajangka panjang.

 

2. Neraca berbentuk laporan ( Report Form )

Neraca bentuk ini susunan aktiva , uatng dan modal disusun berturut – turut dari atas ke bawah . Prinsip penyusunan aktiva, utang dan modal sama sepeti bentuk rekening.

 

Contoh soal :

 

Data rekening riil dari Biro Iklan Jaya pada tanggal 31 Desember 1991 terlihat sebagai berikut :

 

Kas                                                                              Rp       540.000,00

Tanah                                                                          Rp.    8.500.000,00

Gedung                                                                       Rp.    9.000.000,00

Kendaraan                                                                   Rp.  15.000.000,00

Piutang usaha                                                              Rp.    3.500.000,00

Peralatan kantor                                                          Rp.    2.900.000,00

Perlengkapan kantor                                                   Rp.       800.000,00

Akumulasi penyusutan peralatan kantor                     Rp.    3.000.000,00

Utang usaha                                                                Rp.    2.500.000,00

Akumulasi penyusutan peralatan kantor                     Rp.    1.160.000,00

Wesel bayar                                                                 Rp.    1.500.000,00

Modal Adi                                                                  Rp.  24.310.000,00

Asuransi dibayar dimuka                                            Rp.       480.000,00

Utang hipotik                                                              Rp.    6.000.000,00

Akumulasi penyusutan gedung                                   Rp.    2.250.000,00

 

Dari data tersebut di atas jika dibuat neraca dengan bentuk rekening dan bentuk laporan maka terlihat sebagai berikut :

 

 

 

a)      Neraca bentuk rekening

 

BIRO IKLAN JAYA

Neraca

Per 31 Desember 1991

Aktiva Lancar :

Kas                                                    Rp.       540.000,00

Piutang Usaha                                    Rp.     3.500.000,00

Perlengkapan Kantor                          Rp.        800.000,00

Asuransi diibayar dimuka                  Rp.        480.000,00  +

 

Jumlah Aktiva Lancar                        Rp.     5.320.000,00

 

Aktiva Tetap :

Tanah                                                 Rp.     8.500.000,00

Gedung                 Rp.19.000.000,00

Ak.Peny.Gdg.       Rp.  2.250.000,00

 

Rp.    6.750.000,00

 

Perlt.Ktr.               Rp.  2.900.000,00

Akumulasi Peny.

Peralatan Ktr.        Rp.  1.160.000,00

 

Rp.    1.740.000,00

Kendaraan            Rp. 15.000.000,00

Akumulasi Peny.

Kendaraan            Rp.   3.000.000,00

 

Rp.   12.000.000,00  +

 

Jumlah aktiva                                     Rp.   34.310.000,00

 

Utang Jangka Pendek:

Utang Usaha                              Rp.  2.500.000,00

Wesel bayar                               Rp.  1.500.000,00   +

 

Jumlah utang jangka pendek      Rp.  4.000.000,00

 

Utang jangka panjang:

Utang Hipotik                            Rp.  6.000.000,00   +

 

Jumlah utang                             Rp. 10.000.000,00

 

Modal Adi                                 Rp. 24.310.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah utang dan modal            Rp. 34.310.000,00

 

BIRO IKLAN JAYA

 

Neraca

Per 31 Desember 1991

 

 

Aktifa

Aktifva lancar:

–   Kas                                                                                                                                                Rp..                    540.000,00

–   Piutang usaha                                                                                                                                Rp.   3.500.000,00

–   Perlengkapan kantor                                                                                                                      Rp.      800.000,00

–   Asuransai dibayar dimuka                                                                                                             Rp.      480.000,00

 

Jumlah aktiva lancar                                                                                                                      Rp.    5.320.000,00

 

Aktiva Tetap

 

–   Tanah                                                                                              Rp. 8.500.000,00

–   Gedung                                              Rp. 9.000.000,00

–   Akumulasi peny gedung                     Rp. 2.250.000,00  _

 

Rp. 6.750.000,00

–   Peralatan kantor                                 Rp. 2.900..000,00

–   Akumulasi peny. perlt. ktr                 Rp. 1.160.000,00   _

 

Rp. 1.740.000,00

–   Kendaraan                                         Rp.15.000.000,00

–   Akumulasi peny. kendaraan               Rp.  3.000.000,00  _

Rp.12.000.000,00  +

Jumlah aktiva tetap                                                                                                                        Rp.    28.990.000,00

 

Jumlah aktiva                                                                                                                                Rp.    34.310.000,00

 

Utang:

Utang jangka pendek :

–   Utang usaha                                                                                     Rp. 2.500.000,00

–   Wesel bayar                                                                                     Rp. 1.500.000,00  +

 

Jumlah utang jangka pendek                                                            Rp. 4.000.000,00

 

Utang jangka panjang :

 

–   Utang hipotik                                                                                   Rp. 6.000.000,00  +

 

Jumlah utang                                                                                                                                 Rp. 10.000.000,00

 

Modal :

–   Modal Adi                                                                                                                                     Rp. 24.310.000,00  +

 

Jumlah utang dan modal                                                                                                                Rp. 34.310.000,00

 

 

 

 

Laporan keuangan yang bahas dalam bab ini adalah laporan keungan yang dibuat berdasarkan persamaan akuntansi. Untuk menggambarkan hubungan ketiga macam laporan keuangan dari conoth persamaan akuntansi Retno Beuty Salon jika kita buat laporan keuangannya yang terdiri dari :

–          Laporan rugi – laba

–          Laporan perubahan modal

–          Neraca

 

 

 

 

 

Aktiva = Utang + Modal                                                                                                                           ( dalam rupiah )

No Kas Perl.  salon Peralatan salon Ak. Peny. Peralatan Salon Utang Bank Modal Nona Retno Keterangan
1.

2.

2.500.000,00

(500,000,00)

2.500.000,00

(50.000,00)

Investasi modal awal

Beban sewa

 

3.

2.450.000,00

(300.000,00)

50.000,00

250.000,00

2.450.000,00

 
 

4.

2.150.000,00

500.000,00

50..000,00

250.000,00

500.000,00

2.450.000,00

 
 

5.

2.650.000,00

265.000,00

50.000,00

250.000,00

500.000,00

2.450.000,00

265.000,00

 

Pendapatan jasa salon

 

6.

2.915.000,00

(50.000,00)

50.000,00

250.000,00

500.000,00

2.715.000,00

(50.000,00)

 

Beban pajak

 

7.

2.865.000,00

(300.000,00)

50.000,00

250.000,00

500.000,00

(300.000,00)

2.665.000,00

 
 

8.

2.565.000,00

(25.000,00)

50.000,00

250.000,00

200.000,00

2.665.000,00

(25.000,00)

 

Prive Retno

 

9.

2.540.000,00

50.000,00

(20.000,00)

250.000,00

200.000,00

2.640.000,00

(20.000,00)

 

Beban perl. salon

 

10.

2.540.000,00

30.000,00

250.000,00

(25.000,00)

200.000,00

2.620.000,00

(25.000,00)

 

B.peny. perlt. salon

  2.540.000,00 30.000,00 250.000,00 (25.000,00) 200.000,00 2.595.000,00  

 

 

Jika akhir periode akuntansi pada Retno Beauty Salon tanggal 31 Desember 1990 maka laporan keuangannya tampak sebagai berikut :

 

a)      Laporan Rugi – Laba

 

 

 

RETNO BEAUTY SALON

 

Laporan Rugi – Laba

Untuk Periode yang berakhir 31 Desember 1990

 

 
Pendapatan

– Pendapatan jasa salon                                                                                                                 Rp. 265.000,00

 

Beban :

– Beban sewa                                                                           Rp. 50.000,00

– Beban upah                                                                           Rp. 50.000,00

– Beban penyusutan peralatan salon                                        Rp. 25.000,00

– Beban perlengkapan salon                                                     Rp. 20.000,00   +

Jumlah beban                                                                                                                              Rp. 145.000,00   _

 

Laba bersih                                                                                                                                 Rp. 120.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)      Laporan Perubahan Modal.

 

RETNO BEAUTY SALON

Laporan Perubahan Modal

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1990

 

 
Modal Nona Retno, 1 Desember 1990                                                                                           Rp. 2.950.000,00

 

Laba bersih                                                                             Rp. 120..000,00

Prive Retno                                                                              Rp.    25.000,00  _

Penambahan Modal                                                                                                                       Rp.       95.000,00  +

 

 
Modal Nona Retno, 31 Desember 1990                                                                                         Rp. 2.595.000,00

 

 

 

c)      Neraca

 

RETNO BEAUTY SALON

Neraca

Per 31 Desember 1991

Aktiva :

Aktiva Lancar

Kas                                                    Rp. 2.540.000,00

Perlengkapan salon                            Rp.      30.000,00  +

 

Jumlah aktiva lancar                           Rp. 2.570.000,00

 

Aktiva Tetap ;

Peralatan salon          Rp. 250.000,00

Akumulasi peny.

Peralatan salon          Rp.   25.000,00  +

 

Rp.      225.000,00  +

 

Jumlah aktiva                                     Rp.   2.795.000,00

 

Utang :

Utang Bank                                     Rp.   200.000,00

 

Modal :

Modal Nona Retno                          Rp. 2.595.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah utang dan modal                  Rp. 2.795.000,00

 

 

SOAL – SOAL

 

A. SOAL TEORI

1.      Apakah yang dimaksud laporan keuangan ?

2.      Sebutkan syarat – syarat laporan keuangan yang baik !

3.      Sebutkan unsur – unsur laporan rugi laba !

4.      Sebutkan unsur – unsur laporan perubahan modal !

5.      Jelaskan perbedaan  laporan rugi – laba yang berbentuk single step dan yang berbentuk multiple step !

6.      Sebutkan unsur – unsur neraca !

7.      Apakah perbedaaan neraca yang berbentuk rekening dan neraca yang berbentuk laporan ?

 

 

 

 

B. SOAL LATIHAN

 

1.      Persamaan akuntansi perusahaan Gaya Ria Tailor pada tanggal 31 Mei 1991 terlihat sebagai berikut :

 

No Kas Perlengkapan Jahit Peralatan jahit dan obras Utang usaha Modal Ria Keterangan
1.

2.

105.000,00

(30.000,00)

60.000,00

550.000,00

50.000,00

(30.000,00)

665.000,00  
 

3.

75.000,00

25.000,00

60.000,00

550.000,00

20.000,00

690.000,00

150.000,00

 

Pendapatan obras

 

4.

100.000,00

150.000,00

60.000,00

550.000,00

20.000,00

690.000,00

150.000,00

 

Pendapatan jahit

 

5.

250.000,00

(20.000,00)

60.000,00

550.000,00

20.000,00

840.000,00

(20.000,00)

 

Beban listrik

 

6.

230.000,00

(40.000,00)

60.000,00

550.000,00

20.000,00

820.000,00

(40.000,00)

 

Beban gaji

 

7.

190.000,00

20.000,00

60.000,00

550.000,00

20..000,00

780.000,00

20.000,00

 

Pendapatan obras

 

8.

210.000,00

60.000,00

(30.000,00)

550.000,00

20.000,00

800.000,00

(30.000,00)

 

Beban perlengkapan jahit

 

9.

210.000,00

(50.000,00)

30.000,00

550.000,00

20.000,00

770.000,00

(50.000,00)

 

Prive Ria

 

10.

160.000,00

(40.000,00)

30.000,00

550.000,00

20.000,00

720.000,00

(40.000,00)

 

Beban gaji

  120.000,00 30.000,00 550.000,00 20.000,00 680.000,00  

 

Pertanyaan :

Buatlah laporan keuangannya pada tanggsl 31 Mei 1991 yang terdiri dari :

 

a)      Laporan rugi – laba

b)      Laporan perubahan modal

c)      Neraca

 

2.      Dokter Gita Handayani mendirikan sebuah klinik bersalin dengan nama Klinik Bersalin Sejahtera. Transaksi – transaksi yang terjadi selama bulan Juni 1991 adalah sebagai berikut :

Juni      1           :Dokter Gita Handayani menyerahkan uang tunai sebesar   Rp.                                           25.000.000,00 sebagai modal

2               : Dibayar sewa sebuah rumah untuk kegiatan praktek sebesar Rp.                 1.500.000,00 setahun.

4           : Dibeli peralatanmedis sebesar Rp. 10.000.000,00 dari Agam                                                            Medical, dibayar tunai Rp. 2.000.000,00

6           : Dibeli perlengkappan medis dari Kimia Farma sebesar Rp.                                                                   4.000.000,00 tunai

7           : Dibayar  biaya pemasangan iklan kepada harian Kompas sebesar                                            Rp. 75.000,00

8               : Dibayar rekening listrik sebesar Rp. 135.000,00

10         : Dibayar rekening telepon sebesar Rp. 80.000,00

15         :  Penerimaaan jaa medis sampai hari ini dihitung sebesar Rp.                                               450.000,00

18         :  Dibayar biaya keamanan sebesar Rp. 75.000,00

23         :  Dibayar biaya pemuatan iklan pada harian Pagi sebesar Rp.                                              50.000,00

25         :  Dipinjam uang dari BRI sebesar Rp. 3.000.000,00

30         :  Penerimaan jasa edis dari taggal 16 s/d 30 Juni sebesar Rp.                                               100.000,00

30         :  Dibayar gaji para karyawan sebesar Rp. 500.000,00

 

Pertanyaan

 

a)      Buatlah persamaan akuntansi dengan perincian sebagai berikut :

Harta                :     Kas, Perlengkapan medis, Sewa, dibayar dimuka, peralatan                                          medis.

Utang               :     Utang Bank, Wesel bayar

Modal               :     Modal dr. Gita Handayani.

b)      Buatlah laporan keuangan pada tanggal 30 Juni 1991 yang terdiri dari :

–          Laporan rugi – laba

–          Laporan perubahan modal

–          Neraca

3. Biro Jasa Ekajaya memperlihatkan rekening – rekenig beserta saldonya pada tanggal 31 Maret 1991 sebagai berikut :

 

 

Kas                                                                                 Rp.   8.500.000,00

Bebaqn lain-lain                                                             Rp.      500.000,00

Piutang usaha                                                                 Rp.   9.000.000,00

Beban gajih                                                                    Rp.   5.000.000,00

Sewa di bayar dimuka                                                    Rp.   4.500.000,00

Beban listrik dan telepon                                               Rp.      250.000,00

Perlengkapan kantor                                                       Rp.   2.500.000,00

Beban iklan                                                                    Rp.      480.000,00

Peralatan kantor                                                             Rp. 12.000.000,00

Beban sewa                                                                    Rp.   1.500.000,00

Akumulasi penyusutan peralatan kantor                        Rp.   1.200.000,00

Beban perlengkapan kantor                                            Rp.      800.000,00

Gedung                                                                          Rp. 25.000.000,00

Pendapatan komisi                                                         Rp. 22.500.000,00

Akumulasi penyusutan gedung                                      Rp.   2.500.000,00

Prive Bambang                                                               Rp.   2.500.000,00

Tanah                                                                              Rp. 20.000.000,00

Kendaraan                                                                      Rp. 35.000.000,00

Modal Bambang (1Maret 1991)                                     Rp. 77.830.000,00

Utang hipotik                                                                 Rp. 10.000.000,00

Akumulasi penyusutan kendaraan                                 Rp.   3.500.000,00

Utang Usaha                                                                  Rp.   7.500.000,00

Wesel bayar                                                                    Rp.   2.500.000,00

 

Dari data tersebut diatas buatlah:

a.Laporan rugi-laba.

b.Laporan perubahan modal

c.Neraca.

 

4.  Perusahaan reparasi sepeda motor “Jayus” kepunyaan Jayusman memulai operasinya pada tanggal 1 September 1987 dan melakukan transaksi – transaksi yang berikut ini selama bulan September itu:

a.       Jayusman menginvestasikan Rp. 5.000.000,00 dari uang pribadinya ke dalam perusahaan.

b.       Dibeli peralatan reparasi sepeda motor dengan harga Rp.  3.000.000,00 untuk sisanya di beri waktu 30 hari.

c.       Dibeli perlengkapan per kas seharga Rp. 30.000,00

d.      Jayusman menerima Rp.  500.000,00 dari langganan untuk servis reparasi yang sudah dilaksanakan.

e.       Dibayar sewa gedung untuk bulan September Rp. 100.000,00

f.        Dibeli perlengkapan denganm kredit seharga Rp.  500.000,00

g.       Dibayar sebanyak Rp.  250.000,00 dari harga perlengkapan yang dibeli menurut butir f diatas

h.       Dibayar upah para tenaga kerja sebanyak Rp.  80.000,00

i.         Sisa perlengkapan yang masih ada pada akhir bulan September Rp.  350.000,00

 

Diminta :

a.       Susunlah judul- judul aktiva, kewajiban dan modal pemilik dalam sebuah persamaan  akuntansi : AKTIVA – Kas, perlengkapan, Peralatan KEWAJIBAN – Utang Usaha, MODAL-Modal Jayusman.

Sudah itu diperlihatkan dengan jalan menambahkan dan mengurangkan akibat tiap transaksi atas aktiva, kewajiban dan modal pemilik. Perlihatkan saldo-saldo baru setelah tiap transaksi.

b.   Susunlah sebuah perhitungan rugi-laba, neraca dan laporan perubahan modal.

 

(Ujian Nasional Akuntansi, Dasaar Satu, Sabtu, 20 Agustus 1988, Tanpa perubahan ).

 

1.      Imanudin memulai sebuah perwakilan real estate pada tanggal 1 januari 1991 dengan menginfestasikan uang tunai sebanyak Rp. 25.000.000,00. Pada tanggal 31 Desember 1991 perusahaan yang diberi nama “Perwakilan real Estate Iman “ memperlihatkan pos – pos berikut :

 

Beban gaji dan upah                                                                Rp. 12.000.000,00

Beban iklan                                                                              Rp.   2.000.000,00

Beban penyuutan gedung                                                        Rp.   3.000.000,00

Beban penyusutan peralatan kantor                                        Rp.      750.000,00

Beban perlengkkapan kantor                                                   Rp.      250.000,00

Beban rupa – rupa                                                                   Rp.   1.500.000,00

Gaji yang masih harus dibayar                                                Rp.      125.000,00

Gedung                                                                                    Rp. 60.000.000,00

Akumulasi penyusutan gedung                                               Rp.   3.000.000,00

Utang Hipotek                                                                         Rp. 50.000.000,00

Peralatan kantor                                                                       Rp.   7.500.000,00

Akumulasi penyusutan peralatan kantor                                 Rp.      750.000,00

Kas                                                                                          Rp. 1.000.0000,00

Pendapatan komosi                                                                 Rp. 58.125.000,00

Perlengkapan kantor                                                                Rp.      125.000,00

Piutang usaha                                                                          Rp.   2.125.000,00

Tanah                                                                                       Rp. 20.000.000,00

Utang usaha                                                                             Rp.      750.000,00

Prive Imanuddin                                                                      Rp. 25.000.000,00

 

Diminta :

 

Susunlah laporan keuangan yang berikut ini :

a.       Perhitungan rugi – laba

b.      Laporan perubahan modal

c.       Neraca ( bentuk Skontro )

 

 

Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Posted: Februari 27, 2011 in Uncategorized

HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)

1. Pengertian Harga Pokok Penjualan.

Yang dimaksud dengan harga pokok penjualan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual atau harga perolehan dari barang yang dijual.

Ada dua manfaat dari harga pokok penjualan.
1. Sebagai patokan untuk menentukan harga jual.
2. Untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar dari harga pokok penjualan maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan akan diperoleh kerugian.

2. Rumus Menghitung Penjualan Bersih.
Penjualan dalam perusahaan dagang sebagai salah satu unsur dari pendapatan Perusahaan. Unsur-unsur dalam penjualan bersih terdiri dari:
– penjualan kotor;
– retur penjualan;
– potongan penjualan;
– penjualan bersih.
Untuk mencari penjualan besih adalah sebagai berikut:
Penjualan bersih = penjualan kotor – retur penjualan – potongan penjualan.

Contoh:
Diketahui penjualan Rp. 25.000.000,-
Retur penjualan Rp. 125.000,-
Potongan penjualan Rp. 150.000,-
Hitunglah penjualan bersih!
Penjulan bersih = Rp. 25.000.000,- – Rp. 125.000,- – Rp. 150.000,- = Rp. 24.725.000,-

3. Rumus Menghitung Pembelian Bersih.
Pembelian bersih adalah sebagai salah satu unsur dalam menghitung harga pokok penjualan.
Unsur-unsur untuk menghitung pembelian bersih terdiri dari:
– pembelian kotor;
– biaya angkut pembelian;
– retur pembelian dan pengurangan harga;
– retur pembelian;
– potongan pembelian.
Untuk menghitung pembelian bersih dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pembelian bersih = pembelian + biaya angkut pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.

4. Rumus Menghitung Harga Pokok Penjualan.
Untuk menghitung harga pokok penjualan harus diperhatikan terlebih dahulu unsur-unsur yang berhubungan dengan harga pokok penjualan.
Unsur-unsur itu antara lain:
– persediaan awal barang dagangan;
– pembelian;
– biaya angkut pembelian;
– retur pembelian dan pengurangan harga;
– potongan pembelian

Rumus harga pokok penjualan:
HPP = Persediaan awal barang dagangan + pembelian bersih – persediaan akhir
HPP = Barang yang tersedia untuk dijual – persediaan akhir

Keterangan :
Barang yang tersedia untuk dijual = Persediaan awal barang dagangan + pembelian bersih.
Pembelian bersih = Pembelian + biaya angkut pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.
Atau
Barang yang tersedia untuk dijual = Persediaan awal + pembelian + beban angkut
Pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.
Persediaan akhir barang yang tersedia (dikuasai) pada akhir periode akuntansi.
Untuk menghitung Harga Pokok Penjualan.
Perhatikan bagan di bawah ini.


5. Pengertian Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah laporan yang menyajikan sumber pendapatan dan beban suatu perusahaan (dagang) selama periode akuntansi.
Untuk Menghitung laba rugi perusahaan adalah:
Laba bersih = laba kotor – beban usaha.
Beban uasaha dalam perusahaan dagang ada dua kelompok.
1. Beban penjualan ialah biaya yang langsung dengan penjualan.
2. Beban administrasi/umum ialah biaya-biaya yang tidak langsung dengan penjualan.
Untuk menghitung laba kotor adalah:
Laba kotor = penjualan bersih – harga pokok penjualan.
Sedangkan untuk menghitung penjualan bersih adalah :
Penjualan bersih = penjualan – retur penjualan dan pengurangan harga – potongan penjualan.

6. Menyusun Laporan Laba Rugi.
Laporan laba rugi dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu single step dan multiple step.
A. Single Step/Langsung.

Laporan single step/langsung yaitu laporan laba rugi di mana semua pendapatan dijumlahkan menjadi satu, demikian juga untuk bebannya, kemudian dicari selisihnya untuk mengetahui laba atau rugi.

B. Multiple Step (Bertahap)

Laporan laba rugi bentuk multiple step (bertahap) adalah laporan laba rugi dengan mengelompokkan atau memisahkan antara pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, dan memisahkan pula antara beban usaha dan beban di luar usaha, baru kemudian dicari selisihnya sehingga akan diperoleh laba atau rugi usaha.

7. Perusahaan Unsur Laporan Perubahan Modal.
Laporan perubahan modal adalah laporan keuangan yang menyajikan perubahan modal selama satu periode akuntansi.
Perubahan modal diakibatkan oleh adanya pengambilan pribadi, diperolehnya laba, dideritanya kerugian atau adanya setoran pribadi.
Unsur-unsur laporan perubahan modal yaitu:
– modal awal
– laba atau rugi
– pengambilan pribadi
– setoran pribadi
– modal akhir.

8. Unsur-unsur Laporan Neraca.
Neraca adalah laporan keuangan yang menyajikan posisi ruangan perusahaan pada saat tertentu unsur-unsur neraca terdiri dari :
– harta
– kewajiban/utang
– modal
Bentuk laporan neraca terdiri dari dua bentuk yaitu bentuk laporan dan bentuk scontro/sebelah menyebelah.